oleh Fuye Ongko
Mendengarkan cerita merupakan kegiatan yang menarik bagi anak. Karena melalui cerita anak dapat berimajinasi, dan seperti kita tahu imajinasi itu tidak terbatas (itu sebabnya buku Harry Potter sangat meledak di pasaran).
Bagi orangtua pun kegiatan bercerita kepada anak memberikan manfaat tersendiri, dimana kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi secara ekonomis, bercerita tidak membutuhkan banyak biaya (bayangkan berapa yang harus Anda keluarkan untuk bermain di TimeZone selama satu jam).
Satu hal yang penting saat kita bercerita adalah, sebaiknya menceritakan sesuatu yang nyata, yang benar terjadi dengan tokoh-tokoh yang nyata. Mengapa?
Anak tahu bahwa cerita yang terjadi, secara positif dan negatif benar terjadi. Bahwa betul bila melakukan sesuatu yang baik akan mendapat akibat yang baik. Ya, itu tidak sekedar dongeng. ( cerita mengenai tokoh Hideyoshi , Perdana Menteri Jepang yang pertama – karena rajin dan suka bekerja keras bisa menjadi penguasa sebuah negara).
Anak juga mengetahui bahwa perbuatan positif yang terjadi, dilakukan oleh seorang manusia seperti dirinya dan orang lain pada umumnya ( Ibu Teresa mengasihi orang-orang miskin, benar terjadi), bukan oleh tokoh khayalan yang memang super (Superman bisa menyelamatkan banyak orang- di pikiran anak : ya jelas saja dia kan super sedangkan aku tidak)
Cerita yang nyata terjadi juga dapat menambah wawasan anak dan dapat digabungkan dengan pengetahuan umum , saat bercerita mengenai Bill Gates, orangtua dapat sambil mengajarkan apa itu komputer, internet, dimana negara asal Bill Gates , dan lain-lain.

Kegiatan bercerita dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga
Tentunya sebagai orangtua yang akan bercerita perlu mempersiapkan beberapa hal, antara lain :
1. Cerita itu sendiri
Pahami dan kuasai sisi negatif dan positif dari cerita yang ada, ceritakan lebih pada hal-hal yang positif. Karena setiap tokoh atau cerita pasti punya sisi negatif (untuk anak belum perlu kita ekspos sisi negatif dari tokoh tertentu – tidak perlu kita cerita bahwa Hideyoshi mengalami kegagalan besar saat menyerang China karena tidak mau mendengarkan penasehatnya).
2. Alat Peraga
Setiap cerita akan menjadi menarik kalau ada alat peraga berupa gambar, atau sesuatu yang membuat anak bisa turut terlibat dalam kegiatan seperti peta ( anak bisa turut mencari lokasi kejadian cerita – Brazil, tempat lahir Pele , pesepakbola terkenal ).
Tidak perlu kuatir kita akan terlihat kaku atau jelek. Ceritakan saja seperti kita sedang berbincang-bincang bebas dengan anak.
3. Menciptakan Situasi
Agar cerita lebih menarik, orangtua dapat menciptakan situasi seperti menggelapkan ruangan, menaruh beberapa tumbuhan, dan lain-lain.
Penulis adalah Psikolog di klinik SmileKids