Tolong Anakku Berubah

 

TOLONG……MENGAPA ANAKKU BERUBAH?

 

Di era modern ini, sepertinya stres bukan saja sering melanda orang dewasa tetapi tekanan-tekanan ini sering juga terimbas pada anak-anak. Pemicu stres pada anak dapat bermacam-macam dan perilaku yang timbul jugadapat berbeda-beda antara satu anak dengan anak yang lain. William dan Susan Stainback dalam bukunya yang berjudul “Bagaimana Membantu Anak Anda Berhasil Di Sekolah” menulis beberapa perilaku yang mungkin timbul dari stres yang dialami yaitu:

·         Sering menggigit kuku

·         Sulit memusatkan perhatian

·         Menggertakkan gigi

·         Sering menarik-narik telinga, rambut atau pakaian

·         Penurunan prestasi belajar yang mencolok

·         Bicara gagap

·         Makan atau tidur berlebih-lebihan

·         Tak bergairah

·         Tidak sabar dan terburu-buru

·         Ketakutan karena penyebab yang tidak masuk akal

·         Sering mendapatkan kecelakaan

·         Mencari perhatian, tegang atau was-was

·         Tertawa-tawa

·         Mudah terkejut

·         Terlalu sering menangis

·         Kepala pusing

·         Perubahan suasana hati yang tidak menentu

·         Nyeri leher atau punggung

·         Sulit makan atau tidur

·         Mengompol

·         Perut mual-mual atau muntah-muntah

·         Banyak bisul

·         Minder atau merasa dirinya tidak berharga

·         Sulit bergaul dengan teman-teman

·         Sering meninggikan diri

·         Menghisap ibu jari

·         Mimpi buruk

·         Selalu menuntut pembenaran

·         Kehilangan minat sekolah, keluarga atau penampilan

·         Terlalu cemas dan gemetaran

·         Menarik diri dari kegiatan harian

·         Gegabah

·         Membenci sekolah

·         Sering buang air kecil atau air besar

·         Suka minum minuman keras atau obat-obat terlarang

·         Sering melamun atau menyembunyikan diri dari kenyataan

Selain dari perilaku-perilaku di atas, mungkin saja timbul perilaku lainnya. Yang pasti, orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku yang anak tunjukkan. Jika anak menunjukkan hal yang berbeda dari biasanya, kita harus waspadai keadaan ini agar anak dapat cepat tertolong dari masalahnya.

Anak-anak umumnya berbeda dengan orang dewasa. Mereka cenderung masih sulit menganalisa akar permasalahan, mengungkapkannya dalam kata-kata verbal (bercerita), mengenali perasaan yang timbul dari masalah tersebut serta mencari jalan keluarnya. Jadi, seringkali mereka mengekspresikan kekalutan mereka dengan perilaku-perilaku negatif.

Ada banyak stressor yang mungkin memicu timbulnya stress pada anak-anak, antara lain adalah sekolah.

1.    Tekanan untuk berprestasi

Tekanan untuk berprestasi dapat timbul dari eksternal maupun internal.

 

Tekanan dari eksternal misalnya:

§  Tuntutan orang tua

Secara sadar maupun tidak sadar, kata-kata membandingkan ataupun harapan yang diutarakan kadang-kadang membuat tekanan bagi anak.  Walaupun mungkin maksud orang tua bukan menuntut anak, tetapi beberapa anak dapat menangkapnya sebagai sebuah tuntutan dimana jika mereka tidak dapat memenuhinya maka akan merasa telah mengecewakan orang tuanya. Perasaan kecewa yang berlarut-larut dapat menimbulkan stress dan perubahan tingkah laku pada anak.

 

Pemicu lainnya adalah jika tuntutan yang orang tua utarakan tidak sesuai dengan kapasitas si anak. Kadang-kadang keinginan untuk bersaing, mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitar ataupun obsesi orang tua yang tidak tercapai saat ia masih kecil, secara tidak sadar dibebankan pada anak. Sebagai contoh, ada  seorang ibu yang menuntut anaknya untuk menjadi juara kelas karena ia ingin mendapatkan pengakuan dari mertuanya bahwa anaknya lebih baik daripada sepupunya. Alhasil, anak ini menjadi merasa tertekan dan malah tidak dapat mengeluarkan seluruh potensi yang ia miliki. Di lain pihak kami juga menemukan ada seorang ayah yang ingin anaknya mahir dalam bermain drum padahal anak tersebut tidak menyukai musik. Setelah ditelusuri, ditemukan bahwa ternyata obsesi mahir bermain drum adalah kerinduan sang ayah waktu kecil yang tidak tercapai. Ia ingin dapat bermain drum tetapi waktu dulu  tidak memiliki fasilitas untuk membeli dan belajar drum.

 

§  Harapan dari sekolah terhadap anak

Kurikulum yang tidak sesuai dengan kapasitas anak juga dapat menjadi tekanan baginya. Pemilihan sekolah harus disesuaikan dengan kapasitas anak, oleh karena itu sebaiknya orang tua mencari informasi mengenai metode dan kurikulum yang tepat bagi tipe anaknya.

            Tekanan dari internal misalnya:

§  Target pribadi anak untuk mencapai prestasi tertentu

Beberapa anak secara inisiatif menentukan target prestasinya sendiri. Tentunya hal ini adalah baik, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan masalah jika keadaan emosional anak kurang siap. Misalnya, jika target yang diinginkan tidak tercapai dan ia tidak dapat menerima dengan lapang hati maka berpotensi untuk menimbulkan perilaku-perilaku negatif seperti murung, minder dan lain sebagainya.

 

2.    Tekanan adaptasi sosial

Suasana kelas maupun sekolah yang baru menuntut anak untuk dapat luwes dalam bergaul. Yang menjadi masalah adalah kemampuan adaptasi social setiap anak tidak sama. Untuk anak-anak yang mudah bergaul, mereka tidak mengalami kendala di lingkungan baru; tetapi anak-anak yang kurang luwes bergaul akan merasa bahwa lingkungan baru merupakan tantangan yang cukup sulit. Bagaimanapun juga, kehadiran teman-teman dapat menjadi pemicu semangat anak untuk bersekolah.

Yang perlu diwaspadai adalah jika  anak mengalami pembulian dari teman-temannya. Hal ini akan membuat anak merasa sangat tertekan sehingga dapat menimbulkan perilaku-perilaku negatif. Orang tua sebaiknya peka terhadap anaknya, terutama jika anak memiliki kepribadian yang tertutup. Rasanya sulit mengharapkan ia inisiatif bercerita mengenai kejadian-kejadian yang dialami dan apa yang ia rasakan; jadi orang tua yang harus inisiatif mendekati dan memancing anak untuk belajar mengungkapkan perasaannya.

 

3.    Tekanan karena jadwal kegiatan yang padat

Anak usia sekolah mempunyai kewajiban untuk belajar sebaik mungkin, tetapi disamping itu ada hal lain yang tidak boleh terlupakan yaitu tetap memberikan waktu refreshing yang sesuai dengan kebutuhan usianya.

Jadwal kegiatan yang padat  seringkali menjadi dilematis para orang tua. Jumlah jam sekolah yang panjang, les-les yang harus diikuti untuk mendukung prestasi di sekolah, kemacetan yang melelahkan serta tugas-tugas yang harus dikerjakan di rumah mewarnai hari-hari anak usia sekolah jaman sekarang. Padatnya kegiatan ini secara otomatis mengurangi waktu istirahat dan bermain mereka. Di lain pihak, orang tua menilai bahwa semua ini dilakukan semata-mata hanya karena kebutuhan anak untuk mendukung pelajaran sekolahnya.

Efek negatifnya, kejenuhan dan kurangnya waktu refreshing anak dapat menyebabkan stress dan berujung pada perilaku negatif. Sebagai contoh, ada anak yang semakin melamun saat belajar dan menyelesaikan PR-PR nya karena terbayang-bayang sedang bermain play station kesukaannya karena dalam sehari ia tidak ada waktu bermain unruk melepas kepenatannya.

Jika menemukan situasi dilematis seperti ini, cobalah mengambil waktu untuk berdiskusi dengan anak untuk mencari jalan tengahnya.

Ada stressor lain yang juga berpotensi untuk menimbulkan stress pada anak dimana bisa saja hal ini berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Yang pasti, anak-anak ini harus dibantu untuk menemukan jalan keluar dari masalahnya; oleh karena itu sebaiknya kita peka mengenali perubahan-perubahan kecil yang mereka tunjukkan.

 

 

TOLONG MENGAPA ANAKKU BERUBAH?

TOLONG MENGAPA ANAKKU BERUBAH 

Di era modern ini, sepertinya stres bukan saja sering melanda orang dewasa tetapi tekanan-tekanan ini sering juga terimbas pada anak-anak. Pemicu stres pada anak dapat bermacam-macam dan perilaku yang timbul juga dapat berbeda-beda antara satu anak dengan anak yang lain 

Read more...

Testimony (Ti)

Sebagai orang tua memiliki  buah hati adalah suatu kebahagiaan tak terhingga yang di rasakan dalam pernikahan yang kami  jalani. Buah hati adalah kado terindah  dari Tuhan yang sat kami syukur karena begitu banyak orang tua yang mendambakan hadirnya buah hati sebagai  buah cinta mereka dan juga penerus dalam keluarga.  Anak  pertama kami yang dianugrahi  Tuhan bernama ‘Ti’ usia 3 tahun. Tumbuh kembang  ‘Ti’ mulai dari ia lahir sampai usia sekarang selalu kami dengan cermat. ‘Ti’ tumbuh sebagai anak pada umumnya. Namun menginjak usia 2 tahun, kami mulai merasakan adanya keterlambatan dan gangguan tumbuh kembang ‘Ti’ dibanding anak seusianya.

 

Hal yang paling terlihat oleh kami adalah respon yang diberikan ‘Ti” ketika ada orang lain yang mengajakna berkomunikasi dalam bahasa yang paling sederhana (seperti: menyapa” hai,..”, menanyakan nama) ia tidak menjawab bahkan terkesan mengabaikan dan terkadang hanya tersenyum. Ketika ia dipanggil namanya oleh orang lain dengan berulang-ulang, ia beralih dan juga tidak melihat kearah orang yang memanggilnya.  Reaksi lain yang ditunjukkan “Ti” adalah ia seringkali menangis ketika meminta suatu benda, mainan maupun ada keinginannya yang tidak kami pahami karena “Ti” belum bisa berbicara untuk mengutarakannya.

Kontak sosial “Ti” dengan anakseusianya juga sangat minim dan perlu kami arahkan untuk komunikasi maupun bermain bersama temannya. Ketika tema-teman seusianya mapu menunjukanekspresi yang masimal karena hanya bisa menangis tanpa ada kata maupun kalimat yang diucapkan.

Read more...

Subcategories