Memandang Anak secara Positif

 

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa  jika orang tua memiliki cara pandang yang negative terhadap anaknya,  maka interaksi dan pemilihan kata-kata saat berkomunikasi juga cenderung akan negatif. Sebaliknya, jika orang tua memiliki cara pandang yang positif terhadap anaknya maka interaksi dan pemilihan kata-kata saat berkomunikasi akan cenderung positif.

Mengacu pada pandangan ini, maka sebagai orang tua kita harus memperbaiki cara pandang  terhadap anak - anak kita. Sulit rasanya jika perubahan dituntut dari pihak anak. Sebagai orang yang lebih dewasa baik dalam kemampuan berpikir maupun penguasaan emosi, seharusnya kita yang terlebih dahulu berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat.

Berikut ini merupakan beberapa tips yang dapat dilakukan untuk membuat cara pandang yang positif :

1.      Bersyukur  karena anak adalah anugrah dari Tuhan

Dengan didasari rasa syukur, maka niscaya kita dapat memandang anak kita lebih positif. Anda adalah orang yang paling tepat  untuk menjadi orang tua bagi anak Anda. Oleh karena itu, pasti ia akan memperlengkapi Anda dengan kebijaksanaan dan kesabaran yang diperlukan untuk menghadapi tingkah laku anak Anda sehari-hari.

 

2.      Ketahuilah fase-fase perkembangan anak

Turner and Helms sebagai salah satu pakar perkembangan  membagi  fase perkembangan menjadi beberapa kelompok, yaitu infancy and toddlerhood, early childhood, middle childhood, adolescence, young adulthood, middle adulthood  dan  late adulthood.

Adalah penting sebagai orang  tua, kita  mengenal  hal-hal yang  terjadi di   setiap   fase   tersebut    - setidaknya dari infancy sampai adolescence-. Kebutuhan, tantangan dan  cara pendekatan setiap fase itu berbeda; oleh karena itu kita harus mengerti prinsip-prinsip dasarnya. Sebagai contoh: kadang orangtua merasa kalangkabut dan cepat emosi saat anaknya mulai sulit diatur, mulai bisa mengenali kemauannya dan membantah, mulai dapat mempertahankan milik sehingga lebih sering bertengkar dengan saudara kandungnya, mulai sulit dialihkan karena sudah dapat mulai berpikir kritis, lebih memilih untuk pergi bersama teman-teman dibandingkan dengan orang tuanya atau segudang masalah lainnya yang kelihatannya belum muncul  beberapa tahun sebelumnya. Jika Anda mengalami hal ini, Anda harus menilik kembali apakah mungkin fase perkembangan anak Anda sudah bergeser ke fase berikutnya, sehingga mereka memiliki kebutuhan dan tantangannya sendiri.

 

3.      Cobalah untuk mencari kelebihan/potensinya daripada focus pada kekurangannya.

Tidak ada manusia yang sempurna, dibalik banyaknya kekurangan dalam diri seseorang pasti ada kelebihan yang ia miliki; demikian juga sebaliknya. Cobalah Anda menenangkan diri dan berpikir dengan realistis dalam menemukan kelebihan/potensi yang anak Anda miliki. Misalnya, ya memang anak saya sulit diatur, keras kepala, malas belajar, lelet, sulit bangun pagi…. tetapi…… ternyata ia memiliki kemampuan menggambar di atas rata-rata anak seusianya, ia juga memiliki bakat memimpin diantara teman-temannya sehingga sering menjadi ketua organisasi, ia juga memiliki kreativitas yang baik, ia cantik/tampan, ia memiliki kemampuan adaptasi sosial yang baik sehingga dapat bergaul dengan luwes dan popular diantara teman-temannya, walaupun tidak terlalu rajin belajar tetapi nilai di sekolahnya masih di atas KKM, atau hal-hal positif lainnya.

Dengan menemukan hal-hal positif tersebut, akan membantu kita memiliki cara pandang yang lebih positif sehingga dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan lebih baik.

 

4.      Ubahlah konsep berpikir Anda

Contohnya, saat  Anda merasa anak Anda suka sekali berbicara jangan berpikir  “CEREWET nih!” tetapi cobalah berpikir lebih positif “Syukurlah anak saya memiliki kemampuan berbicara yang baik. Ini modal yang baik untuk menjadi seorang presenter atau marketing saat ia besar nanti!”. Atau  jika ia cenderung keras kepala, suka mengatur  dan ngotot akan kemauannya, jangan berpikir “KEPALA BATU nih anak!”. Tetapi cobalah berpikir menjadi “Kemauan kerasnya ini dapat diarahkan untu menjadi seorang pemimpin yang berjuang untuk mencapai visinya!”.

Lihatlah hal tersebut dari sisi yang lebih positif, karena sebenarnya anak Anda butuh seorang mentor yang dapat mengarahkan potensi tersebut menjadi lebih berguna dan lebih matang.

Ingatlah, bahwa cara pandang positif Anda akan membawa keuntungan besar dalam memanfaatkan saat-saat mendidik anak Anda.