<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SmileKids Online</title>
	<atom:link href="http://smilekids.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://smilekids.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 12:54:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memenangkan Tawar Menawar Dengan Anak</title>
		<link>http://smilekids.org/real-life-real-story-2</link>
		<comments>http://smilekids.org/real-life-real-story-2#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 12:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Semakin besar usia anak, semakin sering anak membantah orangtua. Sisi positifnya adalah tingkat kognitif anak sudah semakin membaik, sedangkan sisi negatifnya, bila hal ini tidak terarahkan secara efektif, anak akan berkembang menjadi seorang pemberontak atau mempunyai sikap negativistik.
Terdapat beberapa tips untuk “memenangkan” tawar menawar dengan anak :
1. Foot in the door
Seperti seorang sales yang menawarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin besar usia anak, semakin sering anak membantah orangtua. Sisi positifnya adalah tingkat kognitif anak sudah semakin membaik, sedangkan sisi negatifnya, bila hal ini tidak terarahkan secara efektif, anak akan berkembang menjadi seorang pemberontak atau mempunyai sikap negativistik.</p>
<p>Terdapat beberapa tips untuk “memenangkan” tawar menawar dengan anak :</p>
<p><strong>1. Foot in the door</strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal; ">Seperti seorang sales yang menawarkan barang dari rumah ke rumah, mereka biasa memakai strategi agar kita membeli barang-barang dengan harga yang lebih murah terlebih dahulu, dilanjutkan pada penawaran dengan harga barang yang lebih tinggi.</span></strong></p>
<p> </p>
<p><div class="wp-caption alignright" style="width: 190px"><img class=" " src="http://i46.tinypic.com/ih7diq.jpg" alt="Foot in the door, melakukan permintaan yang tidak dapat ditolak" width="180" height="240" /><p class="wp-caption-text">Foot in the door, melakukan permintaan yang tidak dapat ditolak</p></div>
<p> </p>
<p>Terapkan kepada anak hal yang demikian :</p>
<p><em>Berikan instruksi yang pasti anak bisa lakukan!</em></p>
<p><em>”Ayo belajar , 5 menit saja”</em></p>
<p>Setelah ia duduk belajar 5 menit, waktu bisa diulur pelan-pelan</p>
<p><em>”wah hebat kamu, coba sekarang 10 menit belajar”</em></p>
<p>dan seterusnya</p>
<p><strong> </strong></p>
<p> </p>
<p><strong>2. Door in the face</strong></p>
<p>Ini adalah kebalikan dari cara di atas. Berikan instruksi pada level tersulit, setelah itu dikurangi.</p>
<p><em>“Coba belajar 1 jam dulu, supaya cepat pintar”</em></p>
<p>saat anak menolak, berikan kelonggaran sesuai waktu yang diharapkan</p>
<p> </p>
<p><em>“ya sudah kalau 15 menit pasti bisa kan&#8230;.”</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p> </p>
<p><strong>3. Time Limit</strong></p>
<p>Penawaran terbatas&#8230;.seringkali hal ini malah membuat orang tertarik untuk melakukan sesuatu. Berikan batas waktu, dan beritahu keuntungannya.</p>
<p><em>“ Ayo belajar sekarang, sisa waktunya tinggal 15 menit lo. Kalau tidak sekarang nanti kamu pasti telat nonton film kesukaan kamu”</em></p>
<p> </p>
<p><em>”wah kalau tidak sekarang, kamu pasti rugi. Nanti tidak ada waktu lagi karena Mama mau pergi,tidak bisa nemenin kamu belajar”</em></p>
<p>Secara psikologis, anak akan mempertimbangkan tawaran-tawaran yang sederhana ini. Selalu buat ia di posisi menguntungkan, bukan karena tekanan. Pada <em>foot in the door</em>, anak merasa ia pasti bisa mengerjakannya karena instruksinya sederhana sekali, sedangkan pada <em>door in the face</em>, ia merasa diuntungkan karena mendapatkan ”potongan”. Untuk <em>time limit</em>, anak mengetahui bahwa apa yang ia lakukan akan membawa keuntungan untuk dirinya.</p>
<p>Jangan lupa untuk mengimbangi penawaran-penawaran tersebut dengan reward-reward kecil (walaupun tidak harus). Tips di atas efektif untuk anak usia TK sampai orang dewasa bahkan (siapa tidak tertarik dengan tawaran diskon 30% <em>all item</em> di sebuah toko buku terkemuka di Jakarta yang diadakan pada tanggal tertentu saja)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/real-life-real-story-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Real Life, Real Story</title>
		<link>http://smilekids.org/real-life-real-story</link>
		<comments>http://smilekids.org/real-life-real-story#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 12:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Mendengarkan cerita merupakan kegiatan yang menarik bagi anak. Karena melalui cerita anak dapat berimajinasi, dan seperti kita tahu imajinasi itu tidak terbatas (itu sebabnya buku Harry Potter sangat meledak di pasaran).
Bagi orangtua pun kegiatan bercerita kepada anak memberikan manfaat tersendiri, dimana kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi secara ekonomis, bercerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengarkan cerita merupakan kegiatan yang menarik bagi anak. Karena melalui cerita anak dapat berimajinasi, dan seperti kita tahu imajinasi itu tidak terbatas (itu sebabnya buku Harry Potter sangat meledak di pasaran).</p>
<p>Bagi orangtua pun kegiatan bercerita kepada anak memberikan manfaat tersendiri, dimana kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi secara ekonomis, bercerita tidak membutuhkan banyak biaya (bayangkan berapa yang harus Anda keluarkan untuk bermain di TimeZone selama satu jam).</p>
<p>Satu hal yang penting saat kita bercerita adalah, sebaiknya menceritakan sesuatu yang nyata, yang benar terjadi dengan tokoh-tokoh yang nyata. Mengapa?</p>
<p>Anak tahu bahwa cerita yang terjadi, secara positif dan negatif benar terjadi. Bahwa betul bila melakukan sesuatu yang baik akan mendapat akibat yang baik. Ya, itu tidak sekedar dongeng. ( cerita mengenai tokoh Hideyoshi , Perdana Menteri Jepang yang pertama – karena rajin dan suka bekerja keras bisa menjadi penguasa sebuah negara).</p>
<p>Anak juga mengetahui bahwa perbuatan positif yang terjadi, dilakukan oleh seorang manusia seperti dirinya dan orang lain pada umumnya ( Ibu Teresa mengasihi orang-orang miskin, benar terjadi), bukan oleh tokoh khayalan yang memang super (Superman bisa menyelamatkan banyak orang- di pikiran anak : ya jelas saja dia kan super sedangkan aku tidak)</p>
<p>Cerita yang nyata terjadi juga dapat menambah wawasan anak dan dapat digabungkan dengan pengetahuan umum , saat bercerita mengenai Bill Gates, orangtua dapat sambil mengajarkan apa itu komputer, internet, dimana negara asal Bill Gates , dan lain-lain.</p>
<p> <div class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img class=" " src="http://i49.tinypic.com/32zidl0.jpg" alt="" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Kegiatan bercerita dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga</p></div>
<p>Tentunya sebagai orangtua yang akan bercerita perlu mempersiapkan beberapa hal, antara lain :</p>
<p><strong>1. Cerita itu sendiri</strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Pahami dan kuasai sisi negatif dan positif dari cerita yang ada, ceritakan lebih pada hal-hal yang positif. Karena setiap tokoh atau cerita pasti punya sisi negatif (untuk anak belum perlu kita ekspos sisi negatif dari tokoh tertentu – tidak perlu kita cerita bahwa Hideyoshi mengalami kegagalan besar saat menyerang China karena tidak mau mendengarkan penasehatnya).</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>2. Alat Peraga</strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Setiap cerita akan menjadi menarik kalau ada alat peraga berupa gambar, atau sesuatu yang membuat anak bisa turut terlibat dalam kegiatan seperti peta ( anak bisa turut mencari lokasi kejadian cerita – Brazil, tempat lahir Pele , pesepakbola terkenal ).</span></strong></p>
<p>Tidak perlu kuatir kita akan terlihat kaku atau jelek. Ceritakan saja seperti kita sedang berbincang-bincang bebas dengan anak.</p>
<p> </p>
<p><strong>3. Menciptakan Situasi</strong></p>
<p>Agar cerita lebih menarik, orangtua dapat menciptakan situasi seperti menggelapkan ruangan, menaruh beberapa tumbuhan, dan lain-lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/real-life-real-story/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bobo dan Ben 10</title>
		<link>http://smilekids.org/bobo-dan-ben-10</link>
		<comments>http://smilekids.org/bobo-dan-ben-10#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 12:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[oleh Fuye Ongko
Seringkali kita bingung ketika anak-anak mengeluarkan kata-kata yang kasar atau melakukan tindakan agresif terhadap anak atau orang lain seperti memukul, menendang dan lain-lain. Padahal ketika kita ingat-ingat, tidak pernah sekalipun sebagai orangtua atau guru kita mengajarkan hal-hal negatif tersebut.
Ketika informasi datang, manusia menangkapnya melalui panca indera yang dimiliki, kemudian diteruskan dan diproses di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>oleh Fuye Ongko</em></p>
<p style="text-align: left;">Seringkali kita bingung ketika anak-anak mengeluarkan kata-kata yang kasar atau melakukan tindakan agresif terhadap anak atau orang lain seperti memukul, menendang dan lain-lain. Padahal ketika kita ingat-ingat, tidak pernah sekalipun sebagai orangtua atau guru kita mengajarkan hal-hal negatif tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika informasi datang, manusia menangkapnya melalui panca indera yang dimiliki, kemudian diteruskan dan diproses di otak yang merupakan pusat dari kegiatan kognitif serta emosi. Informasi yang diterima oleh anak tidak terbatas, panca inderanya dapat menyerap informasi dari mana saja tanpa adanya batasan. Saat ini televisi dan media elektronik lainnya memegang peranan penting dalam penyebaran informasi.</p>
<p style="text-align: left;">Seberapa sering anak Anda menonton televisi dan berapa lama serta apa saja yang ditonton turut mempengaruhi tingkah laku yang terbentuk. Jangan menganggap enteng hal ini!</p>
<p style="text-align: left;">Pada tahun 1961, jauh sebelum televisi menjadi benda yang populer, Albert Bandura, mengadakan penelitian mengenai tingkah laku agresif. Penelitiannya tergolong fenomenal pada masa itu dan efeknya ada sampai sekarang. Dalam ilmu psikologi sosial, penelitiannya diberi julukan <em>Bobo Doll experiment .</em></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 208px"><img src="http://i46.tinypic.com/2dierms.jpg" alt="" width="198" height="269" /><p class="wp-caption-text">Perilaku yang diobservasi ditiru oleh anak</p></div>
<p style="text-align: center; "><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;">Di dalam penelitiannya , seorang anak dan seorang dewasa ditempatkan pada satu ruangan dimana anak bermain dengan permainannya sementara orang dewasa bersama dengan <em>Bobo Doll</em>. Saat bermain, orang dewasa tersebut melakukan tindakan kekerasan seperti memukul kepala <em>Bobo Doll</em>, menendang , dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: left;">Kemudian anak dimasukkan ke dalam sebuah ruangan namun kali ini tidak ada orang dewasa yang menemani. Anak diberikan berbagai permainan termasuk boneka Bobo Doll. Sebagian besar anak (dalam jumlah yang signifikan) yang melihat model orang dewasa melakukan kekerasan juga turut melakukan kekerasan terhadap boneka Bobo Doll.</p>
<p style="text-align: left;">Dapat disimpulkan bahwa <em>observational learning</em> (belajar melalui pengamatan terhadap suatu kondisi) mempunyai pengaruh yang besar pada anak.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><img class=" " src="http://i50.tinypic.com/2ns9h5g.jpg" alt="" width="180" height="180" /><p class="wp-caption-text">Ben 10 mengandung banyak unsur kekerasan</p></div>
<p style="text-align: center; "><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Saat ini, film-film bahkan kartun sekalipun memiliki unsur kekerasan yang tergolong tinggi mulai dari film Ben 10 sampai kepada reka ulang kejadian kriminal pada acara informasi kriminal di televisi (yang tayang di siang dan sore hari). Bilamana di tahun 1961 dengan observasi sederhana terhadap <em>Bobo Doll</em> anak-anak dapat dengan mudah meniru tindak kekerasan, apalagi di jaman sekarang ini.</p>
<p style="text-align: left;">Oleh karena itu tidak ada salahnya bersikap bijak dalam memilih dan mengawasi informasi yang akan diserap anak-anak kita, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: right;"><em>Penulis adalah Psikolog di klinik SmileKids.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/bobo-dan-ben-10/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Gratis: Memaksimalkan Perkembangan Otak Anak Berkebutuhan Khusus</title>
		<link>http://smilekids.org/seminar-gratis-memaksimalkan-perkembangan-otak-anak-berkebutuhan-khusus</link>
		<comments>http://smilekids.org/seminar-gratis-memaksimalkan-perkembangan-otak-anak-berkebutuhan-khusus#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 01:58:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Announcement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka bakti sosial, AGGELOS MINISTRY mengundang anda untuk menghadiri seminar gratis bertema memaksimalkan perkembangan otak anak berkebutuhan khusus melalui terapi sensori integrasi
Pada hari Sabtu, 21 November 2009, tgl  Pk 10.00 pagi sampai 12.00 siang, bertempat di SMILE KIDS Parent Child Center, Plaza Pacific A3/52 dan 54, Jl. Raya Boulevard Barat Kelapa Gading
Dengan pembicara:
Fransisca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Dalam rangka bakti sosial, AGGELOS MINISTRY mengundang anda untuk menghadiri seminar gratis bertema memaksimalkan perkembangan otak anak berkebutuhan khusus melalui terapi sensori integrasi</p>
<p style="text-align: center;">Pada hari Sabtu, 21 November 2009, tgl  Pk 10.00 pagi sampai 12.00 siang, bertempat di SMILE KIDS Parent Child Center, Plaza Pacific A3/52 dan 54, Jl. Raya Boulevard Barat Kelapa Gading</p>
<p style="text-align: center;">Dengan pembicara:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Fransisca Febriana Sijaya, M.Psi</strong></p>
<p style="text-align: center;">Psikolog Klinis Anak Smile Kids Parent Child Center dan dosen fakultas kedokteran Universitas Katholik Atmajaya</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>dr. Trifena Ekawaty</strong></p>
<p style="text-align: center;">Penasihat medis Smile Kids Parent Child Center</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">yang telah berpengalaman dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus.</p>
<p style="text-align: center;">Bonus  FREE WORKSHOP cara melatih anak oleh Terapis Sensori Integrasi  SMILE KIDS PARENT CHILD CENTER sangat penting diikuti orang tua anak berkebutuhan khusus, guru, dan pemerhati anak lainnya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/seminar-gratis-memaksimalkan-perkembangan-otak-anak-berkebutuhan-khusus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Speech Delay as a symptom of Developmental Disorder</title>
		<link>http://smilekids.org/speech-delay-as-a-symptom-of-developmental-disorder</link>
		<comments>http://smilekids.org/speech-delay-as-a-symptom-of-developmental-disorder#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 16:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[by Fransica Febryana Sidjaja, M. Psi
Having a child that could express their thoughts in a clear sentences surely brings a great joy to parents. Usually my clients’ most popular first word is “mommy”. Other’s first words could be “daddy” or “ncus” (that’s how they call their nanny in baby’s language). I remember my client ones [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>by Fransica Febryana Sidjaja, M. Psi</em></p>
<p>Having a child that could express their thoughts in a clear sentences surely brings a great joy to parents. Usually my clients’ most popular first word is “mommy”. Other’s first words could be “daddy” or “ncus” (that’s how they call their nanny in baby’s language). I remember my client ones told me how she felt envy to her husband because their child’s first word is “daddy” and not “mommy”.</p>
<p>Producing one word in a sentence is a must in children’s first year. Two words in a sentence is the appropriate standards for two years old, followed by three until four words spoken in a sentence for age three. Four to five words in a sentence should be produced when they are in age four and normally continue to five until six words at age five. These standards of development are the minimum standards that should be fulfilled by the children. There are still many aspects of measurement that will be assessed in order diagnosing the children.</p>
<p>The tolerance for one word to be delayed is 18 months. More than that, if the child still can’t produce 10 single words constantly,  parents are suggested to seek professional’s help in order to find out the causes of the delay.  Speech delay could be a symptom of developmental disorders such as autistic spectrum disorder (ASD), Down Syndrome, Mental Retardation, Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) or Cerebral Palsy.  Detailed assessment should be taken to ensure that the delay is caused “just because” the child having what we call “late bloomer” and is not because developmental disorders.</p>
<p>One of the tools to ensure the diagnosis is by taking an intelligence assessment to measure the child’s intelligence capacities. We should be alarmed if the child’s IQ fall in low average range or less. Theoretically, it could be a sign that something wrong in the brain and needs more specific assessment.</p>
<p>In other hand, if the delay is caused “only” because the child is a “late bloomer”, we can be more relaxed (but treatments are still needed to improve their speech ability!) knowing that the problem is less severe than such developmental disorder’s cases. Knowing specifically your child’s cause of delay and treating them effectively will lead you in maximizing their fullness development.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/speech-delay-as-a-symptom-of-developmental-disorder/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mendeteksi Gejala Autis pada Anak</title>
		<link>http://smilekids.org/bagaimana-mendeteksi-gejala-autis-pada-anak</link>
		<comments>http://smilekids.org/bagaimana-mendeteksi-gejala-autis-pada-anak#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 23:57:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Autism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[oleh Fransisca Febryana Sidjaja, M. Psi
Anak perempuan itu menolak tatapan mata saya dan langsung melihat ke arah lain. Ekspresi mukanya datar dan mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan kata-kata yang tidak beraturan. ”Ya Tuhan,”saya berdoa dalam hati saya,”Mengapa anak semanis ini harus mengalami autis?”
Bekerja sebagai seorang psikolog klinis anak, saya harus membiasakan diri menegakkan suatu diagnosa yang sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh Fransisca Febryana Sidjaja, M. Psi</p>
<p><em>Anak perempuan itu menolak tatapan mata saya dan langsung melihat ke arah lain. Ekspresi mukanya datar dan mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan kata-kata yang tidak beraturan. ”Ya Tuhan,”saya berdoa dalam hati saya,”Mengapa anak semanis ini harus mengalami autis?”</em></p>
<p>Bekerja sebagai seorang psikolog klinis anak, saya harus membiasakan diri menegakkan suatu diagnosa yang sebenarnya saya sendiri enggan melakukannya. Oh ya, saya sangat senang ketika mengabarkan kepada orang tua bahwa anak mereka memiliki IQ sebesar 150. Hal yang berbeda terjadi saat saya harus menyampaikan kabar bahwa anak mereka mengalami autisme. Dipandang dari sudut profesionalitas, mungkin orang-orang akan mengkritik saya sebagai seorang psikolog yang terlalu melibatkan perasaan dalam pemeriksaan terhadap pasien-pasien cilik di klinik tumbuh kembang anak tempat saya bekerja. Bagaimanapun, tidak mudah menghadapi reaksi orang tua yang terkejut, menangis, bahkan tidak mau menerima kondisi anaknya yang didiagnosa mengalami autis.</p>
<p>Saat ini gangguan autisme yang dikenal dengan nama Autistic Spectrum Disorder (ASD) telah merebak menjadi sebuah epidemi di banyak negara. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang penanganan Autis di Amerika membuat pernyataan yang mengagetkan bahwa 1 dari 150 anak terdiagnosa autis. Ini adalah data yang fantastis sekaligus memprihatinkan semua pihak. Di Indonesia sendiri, data terakhir yang diperoleh adalah dari tahun 2004 yang mencatat sebanyak 475.000 anak didiagnosa mengalami autis.</p>
<p>Hampir semua orang mempertanyakan apa yang menjadi penyebab gangguan perkembangan yang menyebabkan seorang anak tidak mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Ia seolah-olah terisolasi dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri. Istilah ’autis’ sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ’didalam diri sendiri’. Gangguan ini mulai dideteksi oleh Leo Kanner pada tahun 1943 dan sampai saat ini penelitian mengenai penyebab dan cara menanganinya masih terus berlanjut.</p>
<p><span id="more-18"></span></p>
<p><strong>Misteri yang Belum Terpecahkan</strong><br />
”Bagaimana mungkin anak saya autis? Apa penyebabnya, bu? Apakah semua ini salah saya?” pertanyaan ini sangat sering dilontarkan orang tua kepada saya. Menenangkan orang tua yang mengalami shock merupakan kewajiban saya sebagai seorang profesional. ”Ibu tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Sampai saat ini penyebab autis masih menjadi tanda tanya besar.” Bukannya bermaksud memberikan sekedar ’angin surga’ kepada orang tua namun pada faktanya memang sampai saat ini belum ada satu hasil penelitianpun yang secara tegas menyimpulkan penyebab tunggal dari gangguan yang mengerikan ini.</p>
<p>Diperkirakan salah satu penyebab autis adalah faktor genetik, hal ini terbukti dari lebih besarnya jumlah penyandang autis pria dibanding wanita. Selain itu, perkiraan lain mengatakan bahwa autis disebabkan oleh keracunan logam berat. Hal ini mungkin terjadi karena ibu makan sea food yang sudah tercemar logam berat atau melakukan tambal gigi yang mengandung amalgam. Seorang dokter yang mendalami bidang autis pernah mengemukakan dalam seminar bahwa sebaiknya saat mengandung ibu-ibu tidak menggunakan make up sama sekali. Hal ini adalah untuk menghindari kemungkinan terpaparnya janin dalam kandungan terhadap merkuri yang mungkin terdapat dalam kosmetik yang digunakan. Ada pula yang memperkirakan bahwa banyaknya jenis vaksinasi yang diterima oleh bayi menyebabkan masuknya merkuri dalam jumlah besar ke dalam tubuh anak pada usia terlalu dini. Hal ini disebabkan karena sebagian besar vaksin yang digunakan menggunakan thimerosal (etil merkuri) sebagai bahan pengawetnya. Akibatnya, untuk anak-anak yang rentan kemungkinan akan memperlihatkan gejala autis yang disebabkan karena keracunan logam berat.</p>
<p><strong>Kenalilah Gejala Autis Sedini Mungkin!</strong><br />
Sangatlah penting bagi orang tua untuk mengenali gejala yang ada pada gangguan ini. You are your child’s first doctor. Karakteristik seorang anak yang mengalami autis ditandai dengan 3 hal. Pertama, anak tidak mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Ia cenderung menolak menatap mata lawan bicaranya dan memilih melihat ke arah lain saat diajak berbicara. Saat merasa senang atau sedih, ekspresi mukanya tetap datar dan tidak mengalami perubahan. Biasanya orang tua merasa frustasi karena anak mereka tidak bisa diajak bermain ci luk ba, menolak untuk dipeluk, dan hampir tidak pernah memulai pembicaraan dengan orang tuanya.</p>
<p>Kedua, anak mengalami keterlambatan bicara atau bahkan sama sekali tidak bisa berbicara. Batas usia yang diberikan para ahli untuk mentoleransi seorang anak mengucapkan kata pertamanya adalah 18 bulan. Pada perkembangannya di usia 2 tahun anak minimal dapat mengucapkan sebuah kalimat yang terdiri dari 2 kata, sesederhana apapun itu. Pada anak yang mengalami autis, sekalipun ia dapat berbicara, biasanya kata-katanya tidak jelas (sering dikenal dengan istilah bahasa planet) atau tidak sesuai dengan konteks pembicaraan.<br />
Ketiga, anak tampak sering melakukan rutinitas yang berulang atau sangat menyukai benda tertentu secara berlebihan. Hellen (bukan nama sebenarnya), menjerit-jerit saat ibu tidak menghidangkan sarapan paginya menggunakan piring merah muda dengan pola bunga-bunga di sekeliling piringnya. Ia juga tidak mau makan saat posisi piring, garpu, dan sendok tidak tertata secara simetris seperti biasanya. Selain memiliki pola rutinitas yang sangat kaku, anak yang mengalami autis biasanya bermain secara aneh terus menerus. Kasus yang sering dijumpai adalah mereka senang sekali memutar roda mobil-mobilannya dalam waktu yang lama, berjam-jam melihat kipas angin yang berputar, atau menyusun mainannya dalam pola yang berulang. Ada pula anak yang sangat senang benda yang berwarna hijau dan terus menerus merengek agar ia dapat memegang sebuah stabilo hijau selama menjalani terapi.</p>
<p>Gejala yang paling mudah dikenali dari autisme adalah minimnya kontak mata anak terhadap lawan bicaranya. Gejala lain yang juga mudah dikenali adalah apabila anak mengalami keterlambatan bicara. Bagaimanapun, untuk gejala yang kedua ini, orang tua perlu berhati-hati. Tidak semua anak yang terlambat bicara pasti mengalami autis, namun terlambat bicara merupakan salah satu karakteristik autis.</p>
<p><strong>Apa yang Harus Saya Lakukan?</strong><br />
Langkah pertama yang perlu ditempuh orang tua apabila mencurigai anaknya mengalami autis adalah dengan membawa anak tersebut pada ahli. Diagnosa autis dapat ditegakkan oleh seorang psikolog atau dokter melalui pemeriksaan yang terstandarisasi. Apabila anak mengalami autis, umumnya psikolog atau dokter akan menganjurkan orang tua untuk mengikutkan anak dalam terapi. Jenis dan jumlah jam terapi biasanya tergantung pada seberapa berat gangguan autis yang dialami anak. Umumnya jenis terapi yang perlu diikuti adalah terapi sensori intrgrasi, perilaku, dan wicara. Tidak sedikit pula anak yang perlu menjalani farmakoterapi, yaitu pemberian obat tertentu oleh dokter. Pastikan tempat terapi memiliki program dan sistem evaluasi yang baik untuk memantau kemajuan anak.</p>
<p>Selain terapi, anak yang mengalami autis juga perlu menjalani diet. Diet yang tepat akan ‘mempersiapkan’ tubuh anak menerima materi terapi. Tanpa diet, terapi yang dilakukan akan menjadi kurang efektif. Umumnya, diet yang harus dijalani adalah dengan menghindari makanan yang mengandung kasein dan gluten. Hal ini termasuk salah satu tugas terberat orang tua. Karena tidaklah mudah menahan anak mengkonsumsi makanan yang mengandung kasein seperti susu, mentega, es krim, coklat, dan yogurt. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja sulit menahan dirinya untuk tidak mengkonsumsi coklat. Belum lagi makanan yang mengandung gluten yang umumnya terdapat dalam tepung terigu. Makanan seperti roti, biskuit, mi, makaroni, spagheti, dan segala sesuatu yang berasal dari terigu wajib dihindari. Bagaimanapun tidak semua anak yang terdiagnosa autis harus menghindari semua jenis makanan tersebut. Untuk mengetahui secara spesifik jenis makanan apa yang harus dihindari anak, dapat diadakan tes alergi.</p>
<p%</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/bagaimana-mendeteksi-gejala-autis-pada-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
