<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SmileKids</title>
	<atom:link href="http://smilekids.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://smilekids.org</link>
	<description>Your Best Partner in Maximising Your Children&#039;s Development</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Jul 2011 14:09:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.3</generator>
		<item>
		<title>Fluid Intelligence, pengukuran IQ yang lebih adil untuk anak berkebutuhan khusus</title>
		<link>http://smilekids.org/fluid-intelligence-pengukuran-iq-yang-lebih-adil-untuk-anak-berkebutuhan-khusus</link>
		<comments>http://smilekids.org/fluid-intelligence-pengukuran-iq-yang-lebih-adil-untuk-anak-berkebutuhan-khusus#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 14:08:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Fuye Ongko, Psikolog Faktor pembentuk kecerdasan umum (G Factor) terbagi ke dalam 2 ranah yang saling berkaitan yakni Fluid Intelligence dan Crystallized Intelligence. Istilah Fluid Intelligence dikembangkan oleh Raymond Cattel, yang berarti kapasitas intelektual seseorang dalam melakukan penalaran yang bersifat logika untuk memecahkan permasalahan secara deduktif maupun induktif (pengertian sebab akibat), serta kemampuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p id="internal-source-marker_0.6583981048315763" dir="ltr">Oleh : Fuye Ongko, Psikolog<img class="aligncenter size-full wp-image-555" title="Fluid Intelligence, pengukuran IQ yang lebih adil untuk anak berkebutuhan khusus" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2011/07/big_mb.jpg" alt="" width="200" height="200" /></p>
<p dir="ltr">Faktor pembentuk kecerdasan umum (G Factor) terbagi ke dalam 2 ranah yang saling berkaitan yakni Fluid Intelligence dan Crystallized Intelligence.</p>
<p dir="ltr">Istilah Fluid Intelligence dikembangkan oleh Raymond Cattel, yang berarti kapasitas intelektual seseorang dalam melakukan penalaran yang bersifat logika untuk memecahkan permasalahan secara deduktif maupun induktif (pengertian sebab akibat), serta kemampuan dalam mengenali suatu pola.</p>
<p dir="ltr">Berbeda dengan Fluid Intelligence, Crystallized Intelligence mengukur tingkat kecerdasan seseorang yang dipengaruhi oleh pengalaman orang tersebut dalam melakukan tugas-tugas yang bersifat akademik.</p>
<p dir="ltr">Fluid Intelligence dapat dikatakan sebagai modal awal bagi seseorang untuk mempelajari sesuatu yang baru, karena Fluid Intelligence tidak dipengaruhi oleh pengalaman belajar secara akademik di sekolah. Seringkali pengukuran IQ tidak menjadi maksimal bagi anak-anak berkebutuhan khusus, tingkat IQ mereka menjadi sangat rendah, karena pengukuran IQ umumnya melibatkan pengetahuan atau kemampuan yang diperoleh anak di sekolah.</p>
<p dir="ltr">Pengukuran terhadap Fluid Intelligence dapat dilakukan melalui tes CFIT (Culture Fair Intelligence Test), CPM (Colour Progressive Matrices) ,SPM (Standard Progressive Matrices), serta beberapa subtes Performance pada Wechsler. Tingkatan Fluid Intelligence yang diperoleh akan membantu pihak terapis dan orangtua dalam memperkirakan potensi kemajuan anak serta memperbaiki kelemahan anak.</p>
<p dir="ltr">Tes-tes di atas dapat diterapkan pada anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki kemampuan bahasa reseptif baik disertai dengan sikap belajar yang sudah memadai (Asperger, MR, High Functioning Autism).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/fluid-intelligence-pengukuran-iq-yang-lebih-adil-untuk-anak-berkebutuhan-khusus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Obesitas bagi anak</title>
		<link>http://smilekids.org/bahaya-obesitas-bagi-anak</link>
		<comments>http://smilekids.org/bahaya-obesitas-bagi-anak#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 23:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[Obesitas atau kelebihan berat badan marak terjadi pada anak-anak di masa kini. Konsumsi yang berlebihan terhadap makanan berkadar lemak maupun gula yang tinggi memicu peningkatan berat badan yang tidak proporsional pada anak-anak.  Walaupun masyarakat memandang anak yang gemuk memiliki image lucu dan menggemaskan, namun secara fisiologis maupun psikologis ada beberapa dampak negatif bagi anak. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div id="attachment_549" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-549" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2011/04/obese-children-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>Obesitas atau kelebihan berat badan marak terjadi pada anak-anak di masa kini. Konsumsi yang berlebihan terhadap makanan berkadar lemak maupun gula yang tinggi memicu peningkatan berat badan yang tidak proporsional pada anak-anak.  Walaupun masyarakat memandang anak yang gemuk memiliki image lucu dan menggemaskan, namun secara fisiologis maupun psikologis ada beberapa dampak negatif bagi anak.</p>
<p>Berikut deretan beberapa nama jenis penyakit yang dipicu oleh obesitas antara lain : diabetes (kencing manis), tekanan darah tinggi, jantung, kanker, dan lain-lain.  Nama-nama penyakit tersebut tergolong dalam penyakit pada tingkatan yang cukup parah.</p>
<p>Anak yang mengalami obesitas , sebagian besar mengalami depresi dan rasa percaya diri yang rendah, terutama saat kondisi obesitas bertahan hingga masa pra remaja sampai masa remaja. Pada usia sekolah (SD) anak dengan obesitas terlihat berbeda dari anak-anak lainnya dan berpotensi untuk menjadi sasaran bullying oleh teman-teman seusianya. Anak juga mengalami kesulitan untuk melakukan permainan maupun olahraga yang membutuhkan keluwesan fisik, dimana jenis permainan ini populer untuk anak-anak usia sekolah maupun anak remaja dimana hal ini turut berperan dalam pembentukan positive self image bagi anak.</p>
<p>Unfuk anak pada usia pra sekolah (2-4 tahun), obesitas dapat memberikan efek yang buruk bagi perkembangan bahasa maupun perkembangan kemampuan motorik kasar anak. Tubuh yang menimbun terlalu banyak lemak dapat mengganggu sistem pernafasan sehingga anak mengalmi kesulitan untuk berbicara . Kegemukan yang terlalu parah dapat mengganggu aktivitas fungsional sehari-hari anak seperti kesulitan dalam melakukan gerakan duduk-berdiri, naik turun tangga, dan lain-lain.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-550" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2011/04/obesity-286x300.jpg" alt="" width="286" height="300" /></p>
<div></div>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/bahaya-obesitas-bagi-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencegah Anak Berkebutuhan Khusus menjadi sasaran Bullying di Sekolah</title>
		<link>http://smilekids.org/mencegah-anak-berkebutuhan-khusus-menjadi-sasaran-bullying-di-sekolah</link>
		<comments>http://smilekids.org/mencegah-anak-berkebutuhan-khusus-menjadi-sasaran-bullying-di-sekolah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 03:21:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Bullying merupakan salah satu bentuk dari agresifitas, dimana pada penjabarannya berarti tindakan agresif yang dilakukan secara sistematis dan terencana serta berulangkali oleh seseorang yang memiliki kedudukan yang lebih baik (secara fisik maupun mental) terhadap orang lain , dimana tindakan ini dilakukan secara individual maupun berkelompok. Bullying dapat berupa tindakan kekerasan fisik , agresifitas verbal, pengucilan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div id="attachment_545" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-545" title="Mencegah Anak Berkebutuhan Khusus menjadi sasaran Bullying di Sekolah" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2011/04/drawing-bullying4-300x297.jpg" alt="" width="300" height="297" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p><em>Bullying </em>merupakan salah satu bentuk dari agresifitas, dimana pada penjabarannya berarti tindakan agresif yang dilakukan secara sistematis dan terencana serta berulangkali oleh seseorang yang memiliki kedudukan yang lebih baik (secara fisik maupun mental) terhadap orang lain , dimana tindakan ini dilakukan secara individual maupun berkelompok.</p>
<p><em>Bullying</em> dapat berupa tindakan kekerasan fisik , agresifitas verbal, pengucilan, pemaksaan dan lain-lain. Tindakan-tindakan ini terjadi di seluruh institusi pendidikan di dunia. Dalam artian, hal ini terus terjadi dan tidak bisa dihilangkan 100%. Bullying tidak hanya dilakukan oleh sesama murid, tetapi tidak jarang dilakukan oleh pendidik (guru). Tindakan bullying dalam intensitas yang tinggi dapat mengarah pada tindakan kriminal seperti pelecehan seksual.</p>
<p>Anak berkebutuhan khusus dengan kemampuan adaptif yang tinggi (high functioning) memiliki kemampuan secara akademik maupun sosial (dalam taraf cukup) untuk mengikuti jenjang pendidikan di sekolah umum atau inklusi. Namun demikian adanya perbedaan dalam tingkah laku maupun kondisi fisik, menjadikan anak-anak ini sasaran empuk perilaku bullying.</p>
<p>Seperti sudah disebutkan di atas, perilaku bullying tidak bisa dihilangkan 100% namun perilaku ini dapat diminimalisir. Antara lain dengan cara :</p>
<p><strong>1.       Meminta anak bercerita mengenai keseharian di sekolah</strong></p>
<p>Orangtua harus menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan anak mengenai kegiatan atau apa yang dialami oleh anak di sekolah. Tanyakan mengenai kegiatan apa yang dilakukan, ada kejadian apa hari ini, dan lain-lain.</p>
<p><strong>2.       Memeriksa kondisi fisik anak</strong></p>
<p>Secara teliti, orangtua memeriksa kondisi fisik anak. Apakah ada bekas luka, goresan, dan lain-lain pada tubuh anak.</p>
<p><strong>3.       Menggali informasi dari teman sekelas anak</strong></p>
<p><strong></strong>Sesekali tanyakan mengenai kondisi anak kepada teman sekelasnya. Hal ini bisa dilakukan bila anak belum memiliki kemampuan yang memadai untuk bercerita.</p>
<p>Misalnya dalam bentuk pertanyaan</p>
<p>“Audrey, kalau di kelas Evelyn suka main sama siapa saja?”</p>
<p>“Suka ada yang gangguin tidak ?”</p>
<p><strong>4.       Menjaga kontak secara rutin dengan pihak sekolah (guru)</strong></p>
<p>Bila anak pulang dengan kondisi emosi yang berbeda dari biasanya, segera tanyakan ke guru, ada kejadian apa di sekolah.</p>
<p><strong>5.       Mencari informasi dari pihak lain, seperti sesama orangtua, babysitter, pengasuh,dan lain-lain</strong></p>
<p>Orang-orang ini dapat menjadi sumber informasi untuk mengetahui atmosfir belajar di sekolah serta pergaulan anak di sekolah. Mereka umumnya tahu figur-figur yang ada di sekolah.</p>
<p><strong>6.       Membekali anak dengan pemahaman norma sosial</strong></p>
<p>Anak yang memahami norma sosial akan menolak atau setidaknya berusaha menolak bila teman meminta mereka melakukan hal yang buruk. Pengajaran dapat berupa : mengajarkan anak mengenai bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain (dada-pada anak perempuan, alat kelamin,bokong), mengajarkan  anak untuk berpakaian sopan (anak perempuan tidak boleh mengangkat rok), mengajarkan mengenai toilet training (buang air di WC, mencuci tangan, membersihkan diri setelah buang air)-saat anak bisa melakukan kegiatan buang air sendiri, akan meminimalisasi terjadinya pelecehan seksual-.</p>
<p><strong>7.       Menjelaskan keadaan anak kepada teman maupun orangtua murid yang lain</strong></p>
<p>Melakukan psikoedukasi atau penjelasan sangat efektif, karena seringkali anak-anak melakukan perbuatan iseng karena mereka tidak tahu kondisi individu yang mereka jadikan sasaran. Penjelasan mengenai kondisi anak dapat dilakukan saat event-event tertentu, atau orangtua dapat meminta guru untuk melakukannya. Keterbukaan orangtua mengenai keterbatasan anak patut ditekankan, agar guru maupun murid-murid lain paham mengenai kondisi si anak.</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/mencegah-anak-berkebutuhan-khusus-menjadi-sasaran-bullying-di-sekolah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya terapi perilaku</title>
		<link>http://smilekids.org/pentingnya-terapi-perilaku</link>
		<comments>http://smilekids.org/pentingnya-terapi-perilaku#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 08:54:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Fuye Ongko, Psikolog Saat melakukan konseling hasil pemeriksaan anak, salah satu saran yang sering saya berikan ialah orangtua mengikutkan anak pada terapi perilaku, khususnya anak dengan gangguan yang tergolong dalam spektrum autis. Umumnya orangtua kurang memahami pentingnya terapi perilaku dan lebih berkeinginan untuk mengikutkan anak pada terapi wicara, agar anak dapat berkomunikasi. Terapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Oleh : Fuye Ongko, Psikolog</p>
<div id="attachment_520" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a rel="attachment wp-att-520" href="http://smilekids.org/pentingnya-terapi-perilaku/baby_blocks_clipart"><img class="size-full wp-image-520" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2011/03/baby_blocks_clipart.gif" alt="" width="200" height="200" /></a><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>Saat melakukan konseling hasil pemeriksaan anak, salah satu saran yang sering saya berikan ialah orangtua mengikutkan anak pada terapi perilaku, khususnya anak dengan gangguan yang tergolong dalam spektrum autis. Umumnya orangtua kurang memahami pentingnya terapi perilaku dan lebih berkeinginan untuk mengikutkan anak pada terapi wicara, agar anak dapat berkomunikasi.</p>
<p>Terapi perilaku (behavior therapy) merupakan terapi yang bertujuan untuk membentuk sikap belajar anak, dimana sikap belajar terdiri dari aspek kepatuhan, fokus, dan pemahaman akan instruksi. Untuk membentuk ketiga hal tersebut diperlukan berbagai kemampuan dasar seperti identifikasi sederhana, awareness, dan lain-lain.<br />
Melalui terapi perilaku, kemampuan bahasa reseptif anak juga dibangun, sehingga saat anak mengikuti terapi wicara (yang lebih fokus pada pengembangan kemampuan bahasa ekspresif) anak menjadi lebih siap.</p>
<p>Contoh  materi dalam terapi perilaku :<br />
Ambil warna merah (anak ditunjukkan balok berwarna merah dan berwarna biru)<br />
-	Anak belajar untuk memahami arti kata ambil<br />
-	Anak belajar untuk memilih<br />
-	Anak belajar mengenal warna dasar<br />
-	Anak belajar untuk fokus</p>
<p>Berdiri di belakang kursi<br />
-	Anak memahami preposisi (letak)<br />
-	Anak memahami instruksi berdiri (dari posisi duduk)<br />
-	Konsistensi pada kemampuan identifikasi benda (kursi).</p>
<p>Dari instruksi sederhana ini terdapat beberapa konsep yang dipelajari oleh anak. Contoh perintah “berdiri di belakang kursi” merupakan salah satu perintah yang kompleks, karena anak harus menahan diri untuk tidak “melarikan diri” atau berjalan kearah lain saat diijinkan untuk beranjak dari kursi , anak juga harus terlebih dahulu mengenal konsep letak serta identifikasi benda.</p>
<p>Tanpa dasar sikap belajar serta kemampuan bahasa reseptif yang baik, keikutsertaan anak pada terapi wicara akan menjadi sia-sia, karena terapis wicara akan lebih sibuk memperbaiki sikap, fokus dan kemampuan bahasa reseptif anak.</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/pentingnya-terapi-perilaku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemantauan Gejala Autis pada anak usia 0-3 tahun</title>
		<link>http://smilekids.org/pemantauan-gejala-autis-pada-anak-usia-0-3-tahun</link>
		<comments>http://smilekids.org/pemantauan-gejala-autis-pada-anak-usia-0-3-tahun#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2011 04:26:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Fuye Ongko, Psikolog Identifikasi gangguan autis pada anak umumnya baru dapat dilakukan dengan memadai saat anak memasuki usia 3-4 tahun. Karena di bawah usia ini, terkadang gejala autis masih tersamar dengan proses perkembangan anak , misalnya pada usia 1 tahun 6 bulan tuntutan anak untuk melakukan kontak sosial memang belum banyak, demikian juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><strong>Oleh : Fuye Ongko, Psikolog</strong></p>
<div id="attachment_351" class="wp-caption alignleft" style="width: 253px"><a rel="attachment wp-att-351" href="http://smilekids.org/pemantauan-gejala-autis-pada-anak-usia-0-3-tahun/pemantauan"><img class="size-medium wp-image-351" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2011/03/pemantauan-243x300.jpg" alt="" width="243" height="300" /></a><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>Identifikasi gangguan autis pada anak umumnya baru dapat dilakukan dengan memadai saat anak memasuki usia 3-4 tahun. Karena di bawah usia ini, terkadang gejala autis masih tersamar dengan proses perkembangan anak , misalnya pada usia 1 tahun 6 bulan tuntutan anak untuk melakukan kontak sosial memang belum banyak, demikian juga perkembangan bahasa anak pada usia tersebut.</p>
<p>Pada negara- negara yang sudah maju perkembangan ilmu klinis anak dan memiliki perhatian yang besar pada bidang anak kebutuhan khusus, telah menerapkan sistem screening yang sangat ketat untuk memantau perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus. Sejak anak dilahirkan (bahkan saat masih di kandungan), pihak medis sudah melakukan screening terhadap perkembangan anak.</p>
<p>Untuk screening terhadap indikasi terjadinya gangguan autis pada anak, selain melalui tes dan observasi yang terstandarisasi dengan baik, AAP (<em>American Academy of Pediatrics</em>) memberikan beberapa panduan singkat observasi untuk orangtua.</p>
<p>Berikut hal-hal yang perlu diwaspadai oleh orangtua pada masa perkembangan anak yang dapat menjadi gejala dari gangguan autis.</p>
<p><strong>“Red Flags” for Autism :</strong></p>
<p><strong>Usia 6 bulan : </strong></p>
<p>anak jarang tersenyum lebar, sangat jarang menunjukkan ekspresi senang</p>
<p><strong>Usia 9 bulan :</strong></p>
<p>Tidak ada komunikasi timbal balik, berupa suara ,senyum , perubahan ekspresi wajah</p>
<p><strong>Usia 12 bulan* :</strong></p>
<p>Tidak ada babbling</p>
<p>Tidak ada komunikasi non verbal seperti : menunjuk, memperlihatkan sesuatu, berusaha meraih, melambaikan tangan</p>
<p><strong>Usia 16 bulan*</strong></p>
<p>Belum dapat berkata-kata (1 kata bermakna)</p>
<p><strong>Usia 24 bulan*</strong></p>
<p>Belum dapat berkata-kata (1-2 kata bermakna, bukan karena mengulang atau imitasi)</p>
<p>*merupakan indikasi kuat yang memerlukan tindakan lebih lanjut</p>
<p>Bila orangtua menemukan adanya tanda-tanda pada anak seperti yang tertera di atas, sebaiknya orangtua segera melakukan tindak lanjut dengan memeriksakan kondisi anak secara lebih detail. Sehingga penanganan dapat dilakukan dengan lebih cepat</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/pemantauan-gejala-autis-pada-anak-usia-0-3-tahun/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa anak takut pada Santa Claus?</title>
		<link>http://smilekids.org/mengapa-anak-takut-pada-santa-claus</link>
		<comments>http://smilekids.org/mengapa-anak-takut-pada-santa-claus#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 14:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :Fuye Ongko, M.Psi Sebagian besar anak senang ketika bertemu Santa Claus, tetapi sebagian lagi merasa ketakutan sampai menangis. Terdapat beberapa sebab yang dapat kita telusuri, antara lain : Ukuran tubuh Ilustrasikan suatu hari kita bertemu dengan orang atau mahluk dengan tinggi badan 3x tinggi badan kita. Kemudian mahluk itu tertawa dengan keras dan datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><strong>Oleh :Fuye Ongko, M.Psi</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p>Sebagian besar anak senang ketika bertemu Santa Claus, tetapi sebagian lagi merasa ketakutan sampai<br />
menangis. Terdapat beberapa sebab yang dapat kita telusuri, antara lain :</p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_354" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-354" href="http://smilekids.org/mengapa-anak-takut-pada-santa-claus/santa2"><img class="size-medium wp-image-354" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2010/12/santa2-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p><strong>Ukuran tubuh</strong></p>
<p>Ilustrasikan suatu hari kita bertemu dengan orang atau mahluk dengan tinggi badan 3x tinggi badan kita.<br />
Kemudian mahluk itu tertawa dengan keras dan datang ke arah kita. Salah satu pilihan dari reaksi kita<br />
adalah rasa takut , dilanjutkan dengan tindakan melarikan diri atau menghindar.</p>
<p>Santa Claus yang berdiri dan menghampiri anak merupakan objek yang menakutkan bagi anak, karena<br />
secara naluriah manusia menganggap objek yang lebih besar dari dirinya memiliki kekuatan yang lebih<br />
besar.</p>
<p><strong>Kostum</strong></p>
<p>Katakan seorang anak sudah terbiasa bertemu dengan anggota keluarga yang bertubuh besar, namun<br />
ketika bertemu dengan Santa Claus anak ketakutan. Faktor penyebabnya bisa jadi kostum yang dipakai<br />
oleh Santa Claus. Kembali ke situasi pertama, bayangkan mahluk besar itu memakai pakaian yang belum<br />
pernah kita lihat, sambil membawa karung besar tentunya……</p>
<p><strong>Pengalaman baru</strong></p>
<p>Sebagian besar anak di usia 2-3 tahun mengalami pengalaman pertama bertemu dengan Santa Claus.<br />
Pengalaman pertama terhadap suatu hal secara langsung menimbulkan tekanan bagi diri seseorang<br />
dimana orang tersebut mempunyai pilihan untuk menghadapi (fight) atau menghindar (flight). Anak<br />
yang mempersepsikan Santa sebagai suatu ancaman akan berusaha menghindari. Sama seperti<br />
pengalaman pertama kita sebagai orang dewasa untuk masuk sekolah atau menghadapi interview<br />
pekerjaan.</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/mengapa-anak-takut-pada-santa-claus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa anak (dan orang dewasa) masih percaya keberadaan Santa Claus</title>
		<link>http://smilekids.org/mengapa-anak-dan-orang-dewasa-masih-percaya-keberadaan-santa-claus</link>
		<comments>http://smilekids.org/mengapa-anak-dan-orang-dewasa-masih-percaya-keberadaan-santa-claus#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 14:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Oleh :Fuye Ongko, M.Psi Santa Claus atau Sinterklas merupakan tokoh yang sangat digemari dari masa ke masa terutama di bulan Desember pada setiap tahunnya. Santa Claus sendiri merupakan tokoh yang diinspirasi dari keberadaan St. Nickholas. Santa Claus digambarkan sebagai seorang pria dengan janggut putih, memakai kostum dan topi merah dengan pekerjaan membagikan hadiah untuk anak-anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>Oleh :Fuye Ongko, M.Psi</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_347" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-347" href="http://smilekids.org/mengapa-anak-dan-orang-dewasa-masih-percaya-keberadaan-santa-claus/santa"><img class="size-medium wp-image-347" src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2010/12/santa-300x221.jpg" alt="" width="300" height="221" /></a><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>Santa Claus atau Sinterklas merupakan tokoh yang sangat digemari dari masa ke masa terutama di bulan Desember pada setiap tahunnya. Santa Claus sendiri merupakan tokoh yang diinspirasi dari keberadaan St. Nickholas. Santa Claus digambarkan sebagai seorang pria dengan janggut putih, memakai kostum dan topi merah dengan pekerjaan membagikan hadiah untuk anak-anak di malam Natal. Diceritakan Santa Claus datang ketika penghuni rumah tertidur dan meletakkan hadiah untuk anak-anak.</p>
<p>Faktanya keberadaan Santa Claus secara ilmiah tidak terbukti. Hadiah yang diberikan berasal dari orangtua atau orang lain yang sudah disiapkan dan kemudian diletakkan saat anak-anak tidur. Ketika mereka datang, orangtua akan menjelaskan kepada anak, bahwa hadiah yang mereka temukan berasal dari Santa Claus.</p>
<p>Sampai saat ini fakta ketidakberadaan Santa Claus tetap ditentang baik oleh anak maupun orang dewasa. Santa Claus tetap menjadi tokoh yang dipercaya keberadaannya. Menjelaskan mengenai Santa Claus secara ilmiah akan membuat penggemar tokoh ini mengalami <em>cognitive dissonance</em>.  Dimana istilah ini menjelaskan suatu kondisi yang dialami seseorang ketika kepercayaannya akan suatu hal ditentang, orang tersebut akan berusaha mengurangi ketidaknyamanan yang ia alami dengan melakukan blaming (menyalahkan pihak lain), denying (menyangkal), justifying (penyesuaian).</p>
<p><strong>Blaming</strong></p>
<p>Anak 1: Sinterklas itu tidak ada</p>
<p>Anak 2 : Tentu saja,karena kamu nakal dia tidak datang kepadamu</p>
<p><strong>Denying &amp; Justiying</strong></p>
<p>Anak 1 : Kamu kan tidak lihat Santa datang ke rumahmu</p>
<p>Anak 2 : Dia datang,tapi saya tidak ketemu,karena saya tertidur.</p>
<p>Anak 1 : Bagaimana mungkin Santa bisa mengunjungi anak-anak di seluruh dunia?</p>
<p>Anak 2: Santa punya kekuatan ajaib makanya dia bisa melakukan itu.</p>
<p>Manusia baik dewasa dan anak-anak cenderung menyelaraskan pemikiran agar sesuai dengan perasaannya. Sehingga ketika terjadi cognitive dissonance ,individu lebih berusaha menyesuaikan agar segalanya terasa lebih nyaman. Saat mempercayai keberadaan Santa, perasaan kita menjadi lebih terhibur, lebih senang dan lebih nyaman, dibandingkan kita menyangkal keberadaan tokoh yang menyenangkan ini. Apalagi Santa lebih terkait dengan hal-hal yang menyenangkan.</p>
<p>Toh tidak ada ruginya bagi anak untuk tetap mempercayai bahwa Santa Claus itu tokoh yang benar-benar ada.</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/mengapa-anak-dan-orang-dewasa-masih-percaya-keberadaan-santa-claus/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>8 Fakta mengenai tertawa</title>
		<link>http://smilekids.org/8-fakta-mengenai-tertawa</link>
		<comments>http://smilekids.org/8-fakta-mengenai-tertawa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 01:47:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[oleh Fuye Ongko, M.Psi 1. Anak-anak tertawa lebih banyak daripada orang dewasa. Anak-anak tertawa 400 kali dalam sehari sedangkan orang dewasa hanya sekitar 15 kali. 2. Lelucon membantu anak mengenal berbagai hal seperti hubungan sebab-akibat, perbendaharaan kata yang baru, etika sosial , dan lain-lain. 3. Anak yang memiliki selera humor yang baik memiliki kemampuan beradaptasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>oleh Fuye Ongko, M.Psi</p>
<div id="attachment_342" class="wp-caption alignright" style="width: 190px"><a rel="attachment wp-att-342" href="http://smilekids.org/8-fakta-mengenai-tertawa/ketawa"><img class="size-medium wp-image-342 " src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2010/09/ketawa-300x251.jpg" alt="" width="180" height="151" /></a><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>1.	Anak-anak tertawa lebih banyak daripada orang dewasa. Anak-anak tertawa 400 kali dalam sehari sedangkan orang dewasa hanya sekitar 15 kali.</p>
<p>2.	Lelucon membantu anak mengenal berbagai hal seperti  hubungan sebab-akibat, perbendaharaan kata yang baru, etika sosial , dan lain-lain.</p>
<p>3.	 Anak yang memiliki selera humor yang baik memiliki kemampuan beradaptasi yang baik dengan teman-teman sebayanya.</p>
<p>4.	Wanita tertawa 126% lebih banyak dari laki-laki</p>
<p>5.	Lelaki lebih mudah menjadi bahan tertawaan daripada perempuan (lebih banyak anak laki-laki menjadi bahan olok-olokan di sekolah daripada anak perempuan).</p>
<p>6.	Contagious Laughter : Kita lebih senang tertawa saat ada orang lain tertawa. Saat sendirian menonton komedi situasi di TV, kita turut tertawa ketika penonton di televisi tertawa. Hal ini disebabkan tawa adalah suatu bahasa yang universal, ekspresi emosi yang sulit untuk dipalsukan atau ditutup-tutupi.</p>
<p>7.	Tertawa mengaktifkan berbagai bagian di otak. Bagian otak yang bereaksi terhadap lelucon adalah medial ventral pefrontal cortex,  dimana bagian ini turut berperan dalam perkembangan kognitif, kepribadian dan emosi.</p>
<p>8.	Semakin besar jumlah anggota kelompok dalam suatu situasi, semakin mudah untuk dibuat tertawa .Karenanya lelucon merupakan ice breaker yang paling efektif.</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/8-fakta-mengenai-tertawa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ZPD</title>
		<link>http://smilekids.org/zpd</link>
		<comments>http://smilekids.org/zpd#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 01:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[oleh Fuye Ongko, M.Psi 3 huruf pada judul artikel ini seringkali terlupakan dalam pembahasan mengenai psikologi perkembangan anak. ZPD merupakan kepanjangan dari Zone of Proximal Development , sebuah konsep yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky seorang psikolog dari Uni Soviet. Menurut Vygotsky ZPD adalah selisih dari pencapaian yang bisa diperoleh oleh seseorang saat mengerjakan tugas sendirian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>oleh Fuye Ongko, M.Psi</p>
<p>3 huruf pada judul artikel ini seringkali terlupakan dalam pembahasan mengenai psikologi perkembangan anak. ZPD merupakan kepanjangan dari Zone of Proximal Development , sebuah konsep yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky seorang psikolog dari Uni Soviet. Menurut Vygotsky ZPD adalah selisih dari pencapaian yang bisa diperoleh oleh seseorang saat mengerjakan tugas sendirian dan saat ia mengerjakan tugas dengan pendampingan dari orang lain.</p>
<div id="attachment_337" class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><a rel="attachment wp-att-337" href="http://smilekids.org/zpd/zpd-2"><img class="size-full wp-image-337 " src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2010/09/zpd.gif" alt="" width="240" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi ZPD</p></div>
<p>Pada pendidikan anak berkebutuhan khusus, ZPD dapat diilustrasikan sebagai berikut :</p>
<p>Tanpa pengarahan dari guru (terapis), seorang anak hanya dapat melakukan kontak mata selama 2 detik. Sedangkan dengan pengarahan dari guru, anak tersebut dapat melakukan kontak mata selama 5 detik. ZPD pada kemampuan kontak mata anak tersebut adalah 3 detik , bila dihitung dalam persentase = 150 %.</p>
<p>ZPD tidak hanya bergantung pada kehadiran orang dewasa yang membantu anak, ZPD dapat terlihat ketika anak berada bersama kelompok bermain (anak-anak lain). Karena melalui permainan , berbagai aspek perkembangan dapat meningkat. Anak yang sebelumnya tidak mengerti konsep bergiliran, saat bermain bersama teman-teman menjadi mengerti mengenai konsep bergiliran.</p>
<div id="attachment_338" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-338" href="http://smilekids.org/zpd/zpd2"><img class="size-medium wp-image-338 " src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2010/09/zpd2-300x225.png" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">ZPD = Potensi</p></div>
<p>Kehadiran konsep ZPD sangat penting di dalam mendorong kemajuan anak berkebutuhan khusus. Setiap anak memiliki ZPD yang terpendam yang terus memotivasi orangtua untuk mengembangkannya.</p>
<p>Adalah suatu kesalahan besar apabila kita memandang anak berkebutuhan khusus sebagai individu yang tidak dapat mengalami perkembangan atau kemajuan.</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/zpd/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Somatoform bikin bingung&#8230;..Sakit apakah saya?</title>
		<link>http://smilekids.org/somatoform-bikin-bingung-sakit-apakah-saya</link>
		<comments>http://smilekids.org/somatoform-bikin-bingung-sakit-apakah-saya#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 13:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>SmileKids</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://smilekids.org/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[oleh Fuye Ongko, M.Psi Tidak jarang kita mendengar keluhan sakit dari anak, entah sakit perut, sakit kepala, dan lain-lain. Ketika dibawa ke dokter atau dilakukan pemeriksaan medis, tidak ditemukan adanya gangguan fisiologis. Gangguan seperti ini mendapatkan istilah tersendiri yaitu somatoform disorder. Individu dengan somatoform disorder benar-benar merasakan sakit seperti sakit yang terjadi secara psikologis. Hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><strong>oleh Fuye Ongko, M.Psi</strong></p>
<p>Tidak jarang kita mendengar keluhan sakit dari anak, entah sakit perut, sakit kepala, dan lain-lain. Ketika dibawa ke dokter atau dilakukan pemeriksaan medis, tidak ditemukan adanya gangguan fisiologis. Gangguan seperti ini mendapatkan istilah tersendiri yaitu somatoform disorder.</p>
<p>Individu dengan somatoform disorder benar-benar merasakan sakit seperti sakit yang terjadi secara psikologis. Hal ini disebabkan adanya masalah dari sisi kejiwaan (emosi) yang diwujudkan dalam bentuk nyata yaitu sakit secara fisiologis (fisik). Seperti sakit perut menjelang ujian&#8230;.atau sakit kepala karena sedang banyak masalah.</p>
<div id="attachment_333" class="wp-caption alignright" style="width: 224px"><img class="size-full wp-image-333 " src="http://smilekids.org/wp-content/uploads/2010/08/sakit.png" alt="" width="214" height="231" /><p class="wp-caption-text">sedikit-sedikit sakit....benarkah sakit?</p></div>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bentuk Somatoform yang umum terjadi :</p>
<ul>
<li>Batuk</li>
<li>Diare</li>
<li>Sakit pinggang</li>
<li>Sakit leher</li>
</ul>
<p>Walaupun terlihat remeh, bila dibiarkan gangguan ini dapat menjadi masalah dalam kehidupan individu. Penderita akan cenderung melakukan “belanja” dokter atau pelayanan medis tanpa henti yang tentunya akan menghabiskan biaya dan bisa memicu timbulnya depressi karena ia tidak menemukan “sebab dari penyakitnya” atau “saya sebenarnya menderita sakit apa?”</p>
<p>Bila hal ini terjadi pada anak atau orang yang kita kenal, salah satu cara yang efektif adalah dengan melakukan kegiatan relaksasi seperti latihan pernafasan, selain itu melibatkan individu pada berbagai kegiatan yang menyenangkan juga akan membuat individu tersebut tidak terlalu fokus pada “sakit” yang ia alami.</p>
<p></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://smilekids.org/somatoform-bikin-bingung-sakit-apakah-saya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

