SmileKids Online

Your Best Partner in Maximising Your Children's Development

oleh Fuye Ongko, M.Psi

Debbie Phelps mengalami kesulitan yang teramat sangat dengan anaknya Michael. Anak laki-lakinya ini terlalu aktif dan seperti tidak pernah kehabisan energi. “tidak pernah duduk diam, tidak pernah menutup mulutnya, selalu bertanya, melompat kesana kemari” demikian komentar Debbie saat mengingat masa kecil Michael. Awalnya Debbie hanya berpikir kondisi itu umum terjadi pada anak laki-laki.

Michael Phelps kebanggaan Amerika

Pada usia 9 tahun, melalui pemeriksaan secara mendetail, diketahui bahwa Michael menderita ADHD. Michael harus mengikuti berbagai terapi. Debbie juga berusaha memadatkan jadwal Michael, termasuk mengikutkan Michael pada kegiatan berenang. Kegiatan ini terbukti efektif untuk penyaluran keaktifan Michael.

Sejak usia 11 tahun, Michael tidak menjalani terapi yang menggunakan obat-obatan. Melainkan lebih fokus pada kegiatan berenang dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Prestasi Michael di dunia renang tergolong menakjubkan. Ia meraih banyak predikat juara. Dan yang paling dikenang orang ialah ketika ia berhasil memperoleh 8 medali emas pada Olimpiade Beijing 2008. Tidak habis sampai disitu, pada kejuaraan dunia renang 2009 , ia memenangkan 6 medali emas. Sampai saat ini Michael Phelps terus berprestasi di dunia renang.

Namun demikian gejala-gejala keaktifannya tetap muncul. “Michael masih tampak seperti dulu, mudah berpindah tempat, terus menerus mengetik pesan singkat, sambil berbicara kepadaku. Tetapi aku menyayanginya” , ujar Debbie Phelps.

Oleh : Fuye Ongko, M.Psi

 

Saat anak mengalami keterlambatan bicara, orangtua cenderung takut anak mengalami gangguan autis. Karena ciri dari gangguan autis sendiri salah satunya ialah adanya keterlambatan dalam berbicara.

Anak yang mengalami keterlambatan bicara juga terkadang memiliki kemampuan kontak sosial yang di bawah rata-rata anak seusianya, sehingga tampak anak kurang mampu bersosialisasi dimana hal ini juga salah satu ciri dari gangguan autis.

Perlu dipahami bahwa perkembangan bahasa terdiri dari 2 bagian besar yakni bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif ditandai dengan kemampuan seseorang dalam memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain baik secara verbal maupun non verbal, biasanya informasi tersebut lebih berupa instruksi. Sedangkan bahasa ekspresif ialah penyampaian informasi secara verbal berupa kata atau kalimat.

Anak dengan keterlambatan bicara umumnya memiliki kemampuan bahasa reseptif yang lebih baik daripada anak dengan gangguan autis namun bila kemampuan bahasa ekspresifnya tidak segera ditingkatkan maka kemampuan bahasa reseptif anak juga tidak meningkat sehingga untuk instruksi atau pemahaman lebih lanjut akan sulit dimengerti oleh anak.

Anak dengan keterlambatan bicara bila tidak segera mendapat penanganan yang sesuai akan mengalami penurunan dalam kemampuan sosialisasi. Hal ini bukan disebabkan karena adanya gangguan klinis tetapi lebih disebabkan karena menurunnya rasa percaya diri anak sehingga anak cenderung lebih suka bermain sendiri atau menarik diri dari lingkungan sosial (karena tidak paham apa yang dibicarakan oleh orang lain).

Gangguan dalam mengontrol emosi juga dapat menyertai anak yang mengalami keterlambatan bicara. Hal ini sekali lagi bukan disebabkan karena hal yang bersifat klinis tetapi karena anak sulit mengungkapkan perasaannya (menjadi tidak sabar karena orang lain tidak memahami maksudnya) sehingga ia memilih melakukan tindakan agresif seperti memukul dan lain-lain.

Melalui pelatihan dan pemberian stimulasi secara intensif, keterlambatan bicara dapat diatasi. Anak akan segera mengejar ketertinggalannya dalam hal sosialisasi dan lainnya.

Oleh Fuye Ongko, M.Psi

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahluk hidup, dari awal masa perkembangan sampai akhir hidupnya. Tidak hanya manusia yang bermain, binatang pun senang melakukan kegiatan ini.

Manusia mempunyai tahapan perkembangan bermain yang sesuai dengan perkembangan dirinya, yaitu sebagai berikut:

1. Sensori Motor ( 6 bulan – 1,5 tahun)

Di usia ini, panca indera anak masih pada tahap perkembangan. Kita tidak akan melihat anak bermain bola atau ular tangga. Permainan masih berupa stimulasi pada panca indera anak, misalnya diperdengarkan bunyi-bunyian, ekspresi wajah (ciluk ba), diberi belaian, dan lain-lain.

Saat anak sudah mulai bisa bergerak sendiri (merangkak atau berjalan), permainan yang ia lakukan lebih berupa eksplorasi dan memegang berbagai benda.

2. Bermain pura-pura (2-7 tahun)

Pada usia ini, kemampuan kognitif anak sudah mulai berkembang. Ia sudah bisa bermain pura-pura, dimana sebuah benda dimanfaatkan sebagai mainan, misalnya pulpen dan penggaris dijadikan pesawat, atau penghapus didorong seperti memainkan mobil-mobilan.

3. Permainan sosial (8-11 tahun)

Saat ini anak sudah berada pada usia sekolah, dimana selain belajar, kemampuan anak dalam bersosialisasi perlu dikembangkan. Melalui permainan yang dapat dilakukan bersama-sama dengan teman, kemampuan sosialisasi anak akan turut berkembang. Anak juga belajar mengenai peraturan , kerja sama dan  etika sosial (tidak boleh curang, taat pada peraturan permainan).

Sebagai catatan , saat ini permainan sosial sudah jarang dilakukan , sebaliknya anak lebih senang bermain games elektronik sendirian. Hal ini dapat mengganggu perkembangan anak selanjutnya (anak menjadi individualis,mau menang sendiri,kurang dapat bersosialisasi).

4. Permainan olahraga (11 tahun ke atas)

Permainan olahraga hampir sama dengan permainan sosial. Hanya saja pada permainan jenis ini terdapat prestasi yang harus dikejar oleh anak.

5. Berkhayal   (7 tahun ke atas)

Umumnya terjadi pada masa remaja, namun dari usia 7 tahun pun anak sudah dapat melakukan kegiatan ini. Sisi positif dari kegiatan ini adalah anak melatih problem solving, kreativitas dan mulai memikirkan tujuan hidup yang lebih tinggi.

 

Dirangkum dari berbagai sumber.

Penulis adalah Psikolog di SmileKids

 

Oleh Fuye Ongko, M. Psi

Rasa takut merupakan sesuatu yang alami dan wajar. Rasa takut tidak dapat digambarkan namun dapat dilihat perilaku yang menunjukkan ketakutan seperti menangis, berkeringat dingin, gugup, dan lain-lain.  Tidak ada yang salah saat kita memiliki rasa takut, sebaliknya saat tidak memiliki rasa takut, kita malah cenderung membahayakan diri sendiri. Bayangkan bila anak Anda yang baru berusia 4 tahun nekat menyeberang sendirian di jalan raya yang ramai dengan kendaraan bermotor.

Permasalahan yang dihadapi anak dan orangtua ialah ketika rasa takut yang ada memiliki tingkat yang terlalu berlebihan atau terhadap objek yang tidak wajar . Rasa takut dengan intensi yang tinggi terhadap suatu objek atau situasi dan menimbulkan gangguan pada kehidupan sehari-hari tergolong pada gangguan kecemasan, secara spesifik dikatakan phobia.

Takut merupakan hasil belajar , karena pada dasarnya semua objek dinilai netral.

Hal ini dapat digambarkan pada ekperimen yang dilakukan oleh Watson kepada seorang anak bernama Albert (nama samaran, penelusuran lebih lanjut diketahui nama sesungguhnya adalah Douglas Meritte). Watson berusaha ”menciptakan” rasa takut dengan melakukan pairing antara  tikus dan suara keras.

 

Kondisi 1 : suara keras diperdengarkan, anak merasa takut

Kondisi 2 : suara keras diperdengarkan,bersamaan dengan itu seekor tikus diperlihatkan

Kondisi 3 : munculnya tikus sudah membuat anak merasa takut.

 

Ternyata kemunculan tikus yang tadinya merupakan sesuatu yang netral dapat memicu rasa takut pada Albert. Rasa takut ini ternyata juga tergeneralisasi kepada objek lain yang mengandung kemiripan seperti boneka berbulu.

Secara praktis kita juga dapat membuat gambaran mengenai asosiasi anak terhadap objek yang ia takuti. Asosiasi itu dapat kita peroleh melalui analisis dan pendekatan yang mendalam terhadap masalah anak. Pada kasus yang pernah saya tangani, yakni phobia terhadap siraman air di kepala pada anak perempuan usia 4 tahun, terjadi pairing antara siraman air dan perlakuan kasar dari pengasuh (pembantu).

Terdapat kondisi dimana anak dimandikan dengan cara yang kasar oleh pembantu (dicubit, dibentak-bentak), sehingga siraman air di kepala diasosiasikan akan menimbulkan bahaya bagi anak. Rasa takut yang timbul lalu tergeneralisasi pada hal-hal lain yang berkaitan (melihat air mancur di kolam renang, melihat shower menyala di kamar mandi).

Lalu bagaimana cara kita mengatasi keadaan ini?

Melalui teori belajar pun, kita menyadari bahwa manusia dapat melakukan re-learning. Berbeda dengan pairing negatif yang terjadi, kita dapat melakukan pairing yang menciptakan kondisi yang menyenangkan untuk anak. Namun tentunya re-learning harus dilakukan secara bertahap. Selama kira-kira 18 pertemuan saya melakukan kegiatan yang menyenangkan yang berkaitan dengan air bersama dengan anak yang saya ceritakan di atas. Pada akhir kegiatan anak sudah berani untuk mandi secara normal (membilas kepala dengan air) dan berenang dengan mencelupkan kepala ke dalam air.

Jangka waktu re learning tidak dapat ditentukan cepat lambatnya, tergantung pada intensi yang ada. Untuk anak-anak korban pelecehan seksual mungkin membutuhkan re learning lebih lama dibandingkan dengan anak-anak lainnya.

Penulis adalah Psikolog di SmileKids

Oleh Fuye Ongko, M. Psi.

Seringkali sebagai orangtua , guru atau pengasuh dari anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (autis,ADHD, MR, dan lain-lain), kita mempertanyakan mengenai terapi yang dilakukan di klinik. Apalagi bila kita sendiri sudah memiliki latar belakang atau pengetahuan mengenai terapi anak berkebutuhan khusus.

Terdapat hambatan tersendiri saat orangtua menterapi sendiri anaknya. Yang terutama adalah komitmen. Orangtua harus bekerja dan memiliki kegiatan lain, sehingga seringkali terapi yang ia lakukan sendiri tidak berjalan dengan waktu yang konsisten. Bila hal ini terjadi maka materi yang disampaikan kurang dapat diterima oleh anak secara berkesinambungan.

Faktor psikologis pun memiliki pengaruh yang tidak kecil. Saat melakukan terapi terhadap orang yang kita kenal (memiliki hubungan darah) terdapat hambatan emosional berupa objektifitas. Orangtua tidak “tega” untuk mendisiplinkan atau berusaha agar anak bisa memiliki sikap belajar yang baik ( di dalam hati ada pemikiran, “ah kasihan kalau dipaksa”).

 

Berbeda ketika orangtua mengikutkan anaknya pada terapi di klinik. Anak mendapatkan program terapi yang sudah tersusun jelas yang disampaikan dalam waktu yang berkesinambungan. Pelaksanaan terapi pun lebih objektif , terutama dalam pembentukan perilaku anak. Selain itu, akan lebih ideal ketika anak mendapatkan pemantauan (monitoring) secara khusus oleh proffesional yang ada di klinik (psikolog,dokter,terapis), sehingga orangtua mengetahui materi-materi apa yang sudah dikuasai anak juga perkembangan anak dalam berbagai aspek (emosi,sosial,kognitif, motorik). Orangtua juga mendapatkan masukan-masukan berupa program latihan yang dapat dilakukan di rumah .

 

Apa yang dituliskan di atas bukan berarti orangtua mempercayakan perkembangan anaknya 100% pada terapi di klinik namun lebih kepada penggambaran yang ideal untuk terapi bagi anak berkebutuhan khusus , yakni kombinasi antara pengasuhan orangtua yang didukung oleh bantuan proffesional dari klinik.

 

Penulis adalah Psikolog di SmileKids

oleh Fuye Ongko, M.Psi

Perkembangan jumlah dan jenis sekolah sudah semakin pesat. Dari yang berjenis konvensional sampai pada tipe-tipe sekolah dengan pola pengajaran yang mengadaptasi sistem pendidikan di luar negeri , dengan ciri memberi banyak kebebasan untuk anak, pengajaran yang lebih child centered, penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar, dan lain-lain.

Terdapat dua hal penting dari dalam diri anak untuk menentukan jenis sekolah yang tepat baginya yakni : tingkat kecerdasan dan kematangan emosional (tingkat kedewasaan).

Tingkat kecerdasan tetap memegang peranan penting dalam keterlibatan pada kegiatan akademik. Bila tingkat kecerdasan anak tergolong tinggi, berarti kapasitasnya dalam menerima dan mengolah informasi yang diberikan akan memadai dan membuatnya mampu menyesuaikan diri (secara akademik).

Sekolah tidak hanya melulu mengenai prestasi akademik, namun terdapat juga hal penting lainnya seperti pergaulan, pelajaran mengenai etika dan ketaatan, disiplin, dan lain-lain. Anak dengan tingkat kematangan emosional yang mencukupi akan mudah untuk menyesuaikan diri dengan tekanan yang ada di sekolah. Pada kasus anak yang lompat kelas (akselerasi), seringkali anak malah menjadi stres, karena di satu sisi ia sangat cerdas dalam hal akademik namun kematangan emosinya masih sangat kurang (contoh anak usia 5 tahun belum mengerti peraturan tetapi sudah masuk sekolah dasar).

Bila kedua faktor yang ada berada pada posisi yang memadai, maka tidak sulit untuk mencari sekolah bagi anak. Bila terjadi defisit pada salah satu faktor yang ada, orangtua tidak perlu terlalu memaksakan anak untuk belajar di sekolah dengan tuntutan berprestasi yang tinggi. Orangtua dapat mempertimbangkan untuk memasukkan anak pada sekolah-sekolah dengan tuntutan akademik yang cukup atau ke sekolah dengan sistem pendidikan yang lebih child centered

Profil Psikologis anak akan membantu orangtua untuk mengarahkan tumbuh kembang anak


 

(Profil Psikologis anak akan membantu orangtua untuk mengarahkan tumbuh kembang anak)

 

Untuk mengetahui potensi kecerdasan serta tingkat kedewasaan anak, orangtua dapat melakukan assessment pada klinik tumbuh kembang anak. Hasil berikut keterangan yang didapat akan sangat membantu orangtua untuk memasukkan anak ke sekolah yang tepat. Melalui profil psikologis yang ada, tidak jarang terungkap juga masalah-masalah emosional yang dialami oleh anak.

Penulis adalah Psikolog SmileKids

oleh Fuye Ongko

Anak perempuan dan anak laki-laki sama-sama memiliki dorongan agresif dalam taraf yang setingkat, bedanya anak laki-laki lebih mengarah kepada agresifitas secara fisik sedangkan anak perempuan lebih menggunakan agresifitas yang bersifat verbal.

Di bawah usia sekolah dasar beberapa karakteristik ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) memiliki kesamaan dengan karakteristik anak usia pra sekolah seperti belum dapat mempertahankan rentang konsentrasi pada satu kegiatan, aktif bergerak, dan adanya perilaku impulsif.

Alergi pada anak yang mengalami gangguan autis tidak selalu berupa tepung terigu, dapat pula pada bahan-bahan makanan lain termasuk buah-buahan atau sayur-sayuran.

Oleh karena itu orangtua sebaiknya memeriksakan alergi anak di tempat yang sesuai, tidak sekedar mengikuti fakta yang umum terjadi.

Efek permainan musik klasik tidak secara langsung berpengaruh pada anak di dalam kandungan ibu. Permainan musik klasik membuat ibu merasa nyaman dan mempengaruhi keadaan bayi di dalam kandungan. Artinya bila ibu tidak merasa nyaman dengan musik klasik, bayi pun akan turut terpengaruh.

Pengajaran dua bahasa utama (bilingual) membutuhkan kesiapan dari anak. Anak yang dipaksakan berada dalam situasi bilingual yang tidak konsisten (di sekolah menggunakan bahasa Inggris, di rumah bahasa Indonesia), malah dapat mengakibatkan gangguan pada perkembangan bicara anak.

 

Penulis adalah Psikolog di klinik SmileKids

oleh Fuye Ongko

Mendengarkan cerita merupakan kegiatan yang menarik bagi anak. Karena melalui cerita anak dapat berimajinasi, dan seperti kita tahu imajinasi itu tidak terbatas (itu sebabnya buku Harry Potter sangat meledak di pasaran).

Bagi orangtua pun kegiatan bercerita kepada anak memberikan manfaat tersendiri, dimana kegiatan ini dapat mempererat hubungan antara anak dan orangtua. Terlebih lagi secara ekonomis, bercerita tidak membutuhkan banyak biaya (bayangkan berapa yang harus Anda keluarkan untuk bermain di TimeZone selama satu jam).

Satu hal yang penting saat kita bercerita adalah, sebaiknya menceritakan sesuatu yang nyata, yang benar terjadi dengan tokoh-tokoh yang nyata. Mengapa?

Anak tahu bahwa cerita yang terjadi, secara positif dan negatif benar terjadi. Bahwa betul bila melakukan sesuatu yang baik akan mendapat akibat yang baik. Ya, itu tidak sekedar dongeng. ( cerita mengenai tokoh Hideyoshi , Perdana Menteri Jepang yang pertama – karena rajin dan suka bekerja keras bisa menjadi penguasa sebuah negara).

Anak juga mengetahui bahwa perbuatan positif yang terjadi, dilakukan oleh seorang manusia seperti dirinya dan orang lain pada umumnya ( Ibu Teresa mengasihi orang-orang miskin, benar terjadi), bukan oleh tokoh khayalan yang memang super (Superman bisa menyelamatkan banyak orang- di pikiran anak : ya jelas saja dia kan super sedangkan aku tidak)

Cerita yang nyata terjadi juga dapat menambah wawasan anak dan dapat digabungkan dengan pengetahuan umum , saat bercerita mengenai Bill Gates, orangtua dapat sambil mengajarkan apa itu komputer, internet, dimana negara asal Bill Gates , dan lain-lain.

Kegiatan bercerita dapat mempererat hubungan antar anggota keluarga

Tentunya sebagai orangtua yang akan bercerita perlu mempersiapkan beberapa hal, antara lain :

1. Cerita itu sendiri

Pahami dan kuasai sisi negatif dan positif dari cerita yang ada, ceritakan lebih pada hal-hal yang positif. Karena setiap tokoh atau cerita pasti punya sisi negatif (untuk anak belum perlu kita ekspos sisi negatif dari tokoh tertentu – tidak perlu kita cerita bahwa Hideyoshi mengalami kegagalan besar saat menyerang China karena tidak mau mendengarkan penasehatnya).

2. Alat Peraga

Setiap cerita akan menjadi menarik kalau ada alat peraga berupa gambar, atau sesuatu yang membuat anak bisa turut terlibat dalam kegiatan seperti peta ( anak bisa turut mencari lokasi kejadian cerita – Brazil, tempat lahir Pele , pesepakbola terkenal ).

Tidak perlu kuatir kita akan terlihat kaku atau jelek. Ceritakan saja seperti kita sedang berbincang-bincang bebas dengan anak.

3. Menciptakan Situasi

Agar cerita lebih menarik, orangtua dapat menciptakan situasi seperti menggelapkan ruangan, menaruh beberapa tumbuhan, dan lain-lain.

Penulis adalah Psikolog di klinik SmileKids

oleh Fuye Ongko

Seringkali kita bingung ketika anak-anak mengeluarkan kata-kata yang kasar atau melakukan tindakan agresif terhadap anak atau orang lain seperti memukul, menendang dan lain-lain. Padahal ketika kita ingat-ingat, tidak pernah sekalipun sebagai orangtua atau guru kita mengajarkan hal-hal negatif tersebut.

Ketika informasi datang, manusia menangkapnya melalui panca indera yang dimiliki, kemudian diteruskan dan diproses di otak yang merupakan pusat dari kegiatan kognitif serta emosi. Informasi yang diterima oleh anak tidak terbatas, panca inderanya dapat menyerap informasi dari mana saja tanpa adanya batasan. Saat ini televisi dan media elektronik lainnya memegang peranan penting dalam penyebaran informasi.

Seberapa sering anak Anda menonton televisi dan berapa lama serta apa saja yang ditonton turut mempengaruhi tingkah laku yang terbentuk. Jangan menganggap enteng hal ini!

Pada tahun 1961, jauh sebelum televisi menjadi benda yang populer, Albert Bandura, mengadakan penelitian mengenai tingkah laku agresif. Penelitiannya tergolong fenomenal pada masa itu dan efeknya ada sampai sekarang. Dalam ilmu psikologi sosial, penelitiannya diberi julukan Bobo Doll experiment .

Perilaku yang diobservasi ditiru oleh anak


Di dalam penelitiannya , seorang anak dan seorang dewasa ditempatkan pada satu ruangan dimana anak bermain dengan permainannya sementara orang dewasa bersama dengan Bobo Doll. Saat bermain, orang dewasa tersebut melakukan tindakan kekerasan seperti memukul kepala Bobo Doll, menendang , dan lain-lain.

Kemudian anak dimasukkan ke dalam sebuah ruangan namun kali ini tidak ada orang dewasa yang menemani. Anak diberikan berbagai permainan termasuk boneka Bobo Doll. Sebagian besar anak (dalam jumlah yang signifikan) yang melihat model orang dewasa melakukan kekerasan juga turut melakukan kekerasan terhadap boneka Bobo Doll.

Dapat disimpulkan bahwa observational learning (belajar melalui pengamatan terhadap suatu kondisi) mempunyai pengaruh yang besar pada anak.

Ben 10 mengandung banyak unsur kekerasan


Saat ini, film-film bahkan kartun sekalipun memiliki unsur kekerasan yang tergolong tinggi mulai dari film Ben 10 sampai kepada reka ulang kejadian kriminal pada acara informasi kriminal di televisi (yang tayang di siang dan sore hari). Bilamana di tahun 1961 dengan observasi sederhana terhadap Bobo Doll anak-anak dapat dengan mudah meniru tindak kekerasan, apalagi di jaman sekarang ini.

Oleh karena itu tidak ada salahnya bersikap bijak dalam memilih dan mengawasi informasi yang akan diserap anak-anak kita, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Penulis adalah Psikolog di klinik SmileKids.

oleh Fuye Ongko

Semakin besar usia anak, semakin sering anak membantah orangtua. Sisi positifnya adalah tingkat kognitif anak sudah semakin membaik, sedangkan sisi negatifnya, bila hal ini tidak terarahkan secara efektif, anak akan berkembang menjadi seorang pemberontak atau mempunyai sikap negativistik.

Terdapat beberapa tips untuk “memenangkan” tawar menawar dengan anak :

1. Foot in the door

Seperti seorang sales yang menawarkan barang dari rumah ke rumah, mereka biasa memakai strategi agar kita membeli barang-barang dengan harga yang lebih murah terlebih dahulu, dilanjutkan pada penawaran dengan harga barang yang lebih tinggi.

Foot in the door, melakukan permintaan yang tidak dapat ditolak

Foot in the door, melakukan permintaan yang tidak dapat ditolak

Terapkan kepada anak hal yang demikian :

Berikan instruksi yang pasti anak bisa lakukan!

”Ayo belajar , 5 menit saja”

Setelah ia duduk belajar 5 menit, waktu bisa diulur pelan-pelan

”wah hebat kamu, coba sekarang 10 menit belajar”

dan seterusnya

2. Door in the face

Ini adalah kebalikan dari cara di atas. Berikan instruksi pada level tersulit, setelah itu dikurangi.

“Coba belajar 1 jam dulu, supaya cepat pintar”

saat anak menolak, berikan kelonggaran sesuai waktu yang diharapkan

“ya sudah kalau 15 menit pasti bisa kan….”

3. Time Limit

Penawaran terbatas….seringkali hal ini malah membuat orang tertarik untuk melakukan sesuatu. Berikan batas waktu, dan beritahu keuntungannya.

“ Ayo belajar sekarang, sisa waktunya tinggal 15 menit lo. Kalau tidak sekarang nanti kamu pasti telat nonton film kesukaan kamu”

”wah kalau tidak sekarang, kamu pasti rugi. Nanti tidak ada waktu lagi karena Mama mau pergi,tidak bisa nemenin kamu belajar”

Secara psikologis, anak akan mempertimbangkan tawaran-tawaran yang sederhana ini. Selalu buat ia di posisi menguntungkan, bukan karena tekanan. Pada foot in the door, anak merasa ia pasti bisa mengerjakannya karena instruksinya sederhana sekali, sedangkan pada door in the face, ia merasa diuntungkan karena mendapatkan ”potongan”. Untuk time limit, anak mengetahui bahwa apa yang ia lakukan akan membawa keuntungan untuk dirinya.

Jangan lupa untuk mengimbangi penawaran-penawaran tersebut dengan reward-reward kecil (walaupun tidak harus). Tips di atas efektif untuk anak usia TK sampai orang dewasa bahkan (siapa tidak tertarik dengan tawaran diskon 30% all item di sebuah toko buku terkemuka di Jakarta yang diadakan pada tanggal tertentu saja)

Penulis adalah Psikolog di klinik SmileKids