SmileKids Online

Your Best Partner in Maximising Your Children's Development

oleh Fuye Ongko, M.Psi

Saat berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus, seringkali masyarakat lebih menekankan pada kekurangan yang ada pada anak dan segala sesuatu yang perlu dikembangkan, mengesampingkan bahwa setiap individu memiliki kelebihan tersendiri. Kata savant sangat jarang kita dengar, mungkin perbandingan kita mendengar kata savant dan autis adalah 0.5 : 10…..10x kita mendengar kata atau predikat autis, tapi hampir tidak pernah mendengar mengenai savant.

Apa itu savant ?

Daroll Treffert, seorang ahli yang meneliti fenomena savant mengatakan bahwa kondisi ini merupakan sesuatu yang langka dimana seseorang dengan kebutuhan khusus memiliki keahlian atau kemampuan yang sangat tinggi di suatu bidang dimana hal ini kontras dengan perkembangan keseluruhan individu tersebut. Sebagian besar individu dengan savant merupakan penderita autis, dan sebagian besar lagi merupakan individu yang mengalami brain injury, mental retardation dan gangguan perkembangan lainnya.

Pada tahun 2009, penelitian di Inggris yang dilakukan oleh Howlin dan rekan-rekannya menghasilkan fakta bahwa terdapat 20% individu savant dari populasi individu dengan autisme ( penelitian terhadap 137 subjek), dan jumlah ini menurut mereka dapat meningkat sampai perkiraan 30% karena saat penelitian dilakukan masyarakat masih memiliki stigma negatif terhadap penderita autis (meremehkan kemampuan mereka). Treffert sendiri menyatakan terdapat 1 individu savant diantara 10 penderita autis

Fenomena savant pernah diangkat ke layar lebar pada film berjudul “Rain Man”, berdasarkan kehidupan dari Kim Peek (individu savant dengan berbagai keterlambatan perkembangan – memiliki kemampuan speed reading dan berhitung yang luar biasa). Selain Kim Peek, terdapat nama Temple Grandin, penderita autis yang saat dewasa menyandang gelar doktor di bidang animal science ( sebelumnya mendapat gelar bachelor di bidang psikologi, dan master di bidang animal science)

Kim Peek dan Temple Grandin hanya sebagian kecil individu dengan savant yang dapat mengembangkan potensi mereka sampai pada tahan yang luar biasa. Di saat kita membuka mata untuk memandang secara positif individu berkebutuhan khusus, bukan tidak mungkin kita akan menemukan mutiara di dalam diri mereka.

oleh Fuye Ongko, M.Psi

Hari Anak Nasional pada tahun 2010 berlalu biasa-biasa saja, walaupun perkembangan dunia anak sudah sedemikian luar biasa. Era anak-anak sudah berubah, di jaman 70-80an kita belum paham benar mengenai mesin yang dinamakan komputer. Saat ini, sejak usia sekolah dasar , anak-anak (terutama di kota-kota besar) sudah paham bagaimana menggunakan internet . Facebook bukan benda asing lagi bagi mereka.

Masa kanak-kanak 3 dekade yang lalu masih dipenuhi dengan permainan-permainan tradisional yang bisa dimainkan bersama-sama. Saat ini anak cenderung berkembang menjadi pribadi yang individualis karena terbiasa dengan permainan-permainan elektronik yang umumnya dimainkan oleh satu orang atau dua orang saja.

Televisi si kotak ajaib tetap menjadi idola anak. Hanya menu di dalamnya yang berubah. Kalau dulu kita masih disajikan berbagai tayangan yang mendidik seperti Unyil, Komo dan beberapa materi pelajaran sekolah (biasa ada di salah satu televisi pemerintah-yang sekarang sudah menjadi televisi swasta), saat ini anak dijejali dengan informasi dengan tingkat kedewasaan yang tidak sesuai umur mereka, dari sinetron bertema perselingkuhan, hamil di luar nikah sampai pada infotainment dengan berita-berita yang vulgar.

Satu hal yang masih sama dari jaman ke jaman , dan ini menjadi penentu masa depan di era berikutnya adalah peranan keluarga. Peranan figur Ayah dan Ibu tidak pernah berubah, figur-figur ini adalah teladan utama di dalam keluarga, bukan televisi atau internet. Kuatnya penanaman nilai dari figur orangtua akan membentuk karakter anak. Jadilah pahlawan bagi keluarga, matahari yang selalu dilihat oleh anak karena cahayanya yang hangat dan sinarnya yang selalu menerangi. Selamat memasuki era dunia anak yang baru!


oleh Fuye Ongko, M.Psi

 

Di usia kanak-kanak Tajiri sangat terobsesi dalam mengumpulkan serangga. Ia yang kebetulan tinggal di daerah pedesaan hampir setiap hari bermain untuk mengumpulkan serangga. Karena obsesinya ini , Tajiri dijuluki Dokter Serangga oleh teman-teman sepermainannya. Tajiri didiagnosa menderita Asperger syndrome. Dimana penderita Asperger Syndrome umumnya memiliki minat yang berlebihan terhadap satu hal spesifik.

 

Menginjak usia remaja, Tajiri memiliki minat yang sangat kuat pada video game. Ia tidak hanya senang bermain video game, tetapi ia ingin tahu bagaimana sebuah game bisa bekerja. Ia sempat memenangkan kompetisi pencarian ide video game yang diadakan oleh Nintendo.

 

Obsesi-obsesi yang dimiliki oleh Tajiri membuatnya mengalami kesulitan di sekolah. Ia hampir tidak lulus sekolah karena terus memikirkan video games. Bahkan ia memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Tajiri hanya mengikuti sekolah tehnik selama 2 tahun.

 

 

Satoshi Tajiri si dewa Pokemon

 

 

 

Sejak usia 17 tahun, Tajiri aktif menulis di majalah-majalah game. Ia juga terlibat dalam pembuatan beberapa game milik Nintendo. Puncaknya adalah ketika ia berhasil mengembangkan game Pokemon. Game ini betul-betul meledak di pasaran dan menyelamatkan pasar Game Boy (alat permainan buatan Nintendo) yang hampir bangkrut.

 

Pengetahuannya yang mendalam akan serangga dan fanatismenya terhadap game membuat Pokemon menjadi game yang masuk dalam kategori terbaik dan menciptakan wabah Pokemania di tahun 1999 sampai tahun 2000an.

 

Sampai saat ini Tajiri masih dalam obsesinya untuk terus mengembangkan game, ia bisa bekerja selama 24 jam dalam sehari.


oleh Fuye Ongko, M.Psi

 

Kesulitan belajar atau umumnya disebut learning disabilities adalah gangguan dengan tingkatan yang berbeda-beda yang berkaitan dengan penangkapan informasi atau belajar. Pada umumnya kesulitan belajar dibagi dalam 4 golongan yakni :

 

Dsylexia : kesulitan dalam memproses informasi bahasa

Dyscalcula : kesulitan dalam memproses informasi matematis

Dysgraphia : kesulitan yang mempengaruhi kesulitan dalam menulis

Non verbal learning disability :kesulitan dalam koordinasi motorik

 

Anak yang mengalami learning disabilities memiliki karakteristik :

-          tingkat kecerdasan pada taraf rata-rata, bahkan lebih.

-          Memiliki kemampuan adaptif yang baik (mandiri sesuai usianya).

-          Kesulitan belajar yang dialami bukan disebabkan karena masalah fisik atau emosi.

 

Dari karakteristik di atas terkadang orangtua menjadi bingung, anak yang tidak memiliki masalah apa-apa, kenapa kok tidak bisa membaca dengan baik? Padahal IQ nya bagus dan tidak ada gangguan emosional.

 

Anak dengan kesulitan belajar, berdasarkan hasil penelitian dari Dr. Sally E Shaywitz dari Universitas Yale, mengalami gangguan secara neurologis. Dimana hal ini berarti anak mengalami kesulitan dalam menangkap dan memproses informasi berupa stimulus visual atau audio. Mereka dapat melihat dan mendengar , namun kesulitan untuk memproses informasi tersebut. Anak dengan kesulitan belajar bisa saja sangat baik dalam membaca tapi sangat buruk dalam mengeja (disebabkan karena pengorganisasian informasi yang kacau).

 

Penanganan , terutama dalam bentuk kurikulum belajar, perlu disesuaikan bagi anak dengan kesulitan belajar. Remedial akan sangat membantu bagi anak-anak ini.

oleh Fuye Ongko, M.Psi

 

Gangguan ini mendapatkan nama sesuai dengan nama penemunya yaitu Hans Asperger, seorang dokter dari Vienna di tahun 1944. Asperger’s Syndrome adalah gangguan neurologis yang secara mendasar mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bersosialisasi secara memadai. Gangguan ini mempengaruhi kemampuan kognitif, sensori maupun sosial dari seseorang.

Sampai saat ini penggolongan Asperger’s Syndrome masih menjadi kontroversi. Sebagian ahli menganggap hal ini merupakan bagian dari spektrum autis , tergolong high functioning autism. Sebagian lagi menganggap Asperger’s Syndrome merupakan salah satu tipe dari nonverbal learning disability.

memiliki minat sangat spesifik


Karakteristik individu dengan Asperger’s Syndrome adalah sebagai berikut :

 

-          memiliki tingkat kecerdasan paling sedikit rata-rata dan memiliki kemampuan yang sangat tinggi di bidang tertentu.

-          pada anak-anak mereka terlihat sangat terobsesi pada suatu bidang tertentu. Menjadikan mereka seperti proffesor kecil. Mereka terus berbicara mengenai hal tersebut.

-          kurang menyadari adanya batasan pada jarak sosial. Berdiri terlalu dekat dengan orang lain dan tidak mengerti mengapa orang lain merasa tidak nyaman akan hal tersebut.

-          kurang tertarik dalam berdialog. Lebih terlihat bermonolog, atau berbicara sendiri mengenai topik yang ia ingin bicarakan.

-          sangat kaku terhadap perubahan. Bisa marah karena barang-barangnya dipindahkan.

-          sangat sensitif terhadap gangguan seperti suara tetesan air, dan lain-lain (oversensitive senses)

-          berbicara dengan nada suara yang monoton.

 

Bila tidak diarahkan dengan baik, anak dengan Asperger’s Syndrome akan menderita depresi karena sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Mereka kerap menjadi korban bullying karena dianggap aneh.

Sebaliknya melalui bimbingan yang tepat, mereka akan berkembang menjadi ahli-ahli di bidang yang sangat spesifik. Usahakan untuk selalu memberikan pujian secara jelas bila anak ini melakukan respon sosial yang baik . Contoh : “ Budi, saya sangat menghargai saat kamu mau membagi kue dengan temanmu “. Selain itu jangan lupa untuk selalu memberitahukan jadwal harian kepada anak, juga mengantisipasi bila terjadi perubahan jadwal.

oleh Fuye Ongko, M.Psi

Debbie Phelps mengalami kesulitan yang teramat sangat dengan anaknya Michael. Anak laki-lakinya ini terlalu aktif dan seperti tidak pernah kehabisan energi. “tidak pernah duduk diam, tidak pernah menutup mulutnya, selalu bertanya, melompat kesana kemari” demikian komentar Debbie saat mengingat masa kecil Michael. Awalnya Debbie hanya berpikir kondisi itu umum terjadi pada anak laki-laki.

Michael Phelps kebanggaan Amerika

Pada usia 9 tahun, melalui pemeriksaan secara mendetail, diketahui bahwa Michael menderita ADHD. Michael harus mengikuti berbagai terapi. Debbie juga berusaha memadatkan jadwal Michael, termasuk mengikutkan Michael pada kegiatan berenang. Kegiatan ini terbukti efektif untuk penyaluran keaktifan Michael.

Sejak usia 11 tahun, Michael tidak menjalani terapi yang menggunakan obat-obatan. Melainkan lebih fokus pada kegiatan berenang dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Prestasi Michael di dunia renang tergolong menakjubkan. Ia meraih banyak predikat juara. Dan yang paling dikenang orang ialah ketika ia berhasil memperoleh 8 medali emas pada Olimpiade Beijing 2008. Tidak habis sampai disitu, pada kejuaraan dunia renang 2009 , ia memenangkan 6 medali emas. Sampai saat ini Michael Phelps terus berprestasi di dunia renang.

Namun demikian gejala-gejala keaktifannya tetap muncul. “Michael masih tampak seperti dulu, mudah berpindah tempat, terus menerus mengetik pesan singkat, sambil berbicara kepadaku. Tetapi aku menyayanginya” , ujar Debbie Phelps.

Oleh : Fuye Ongko, M.Psi

 

Saat anak mengalami keterlambatan bicara, orangtua cenderung takut anak mengalami gangguan autis. Karena ciri dari gangguan autis sendiri salah satunya ialah adanya keterlambatan dalam berbicara.

Anak yang mengalami keterlambatan bicara juga terkadang memiliki kemampuan kontak sosial yang di bawah rata-rata anak seusianya, sehingga tampak anak kurang mampu bersosialisasi dimana hal ini juga salah satu ciri dari gangguan autis.

Perlu dipahami bahwa perkembangan bahasa terdiri dari 2 bagian besar yakni bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif ditandai dengan kemampuan seseorang dalam memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain baik secara verbal maupun non verbal, biasanya informasi tersebut lebih berupa instruksi. Sedangkan bahasa ekspresif ialah penyampaian informasi secara verbal berupa kata atau kalimat.

Anak dengan keterlambatan bicara umumnya memiliki kemampuan bahasa reseptif yang lebih baik daripada anak dengan gangguan autis namun bila kemampuan bahasa ekspresifnya tidak segera ditingkatkan maka kemampuan bahasa reseptif anak juga tidak meningkat sehingga untuk instruksi atau pemahaman lebih lanjut akan sulit dimengerti oleh anak.

Anak dengan keterlambatan bicara bila tidak segera mendapat penanganan yang sesuai akan mengalami penurunan dalam kemampuan sosialisasi. Hal ini bukan disebabkan karena adanya gangguan klinis tetapi lebih disebabkan karena menurunnya rasa percaya diri anak sehingga anak cenderung lebih suka bermain sendiri atau menarik diri dari lingkungan sosial (karena tidak paham apa yang dibicarakan oleh orang lain).

Gangguan dalam mengontrol emosi juga dapat menyertai anak yang mengalami keterlambatan bicara. Hal ini sekali lagi bukan disebabkan karena hal yang bersifat klinis tetapi karena anak sulit mengungkapkan perasaannya (menjadi tidak sabar karena orang lain tidak memahami maksudnya) sehingga ia memilih melakukan tindakan agresif seperti memukul dan lain-lain.

Melalui pelatihan dan pemberian stimulasi secara intensif, keterlambatan bicara dapat diatasi. Anak akan segera mengejar ketertinggalannya dalam hal sosialisasi dan lainnya.

Oleh Fuye Ongko, M.Psi

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahluk hidup, dari awal masa perkembangan sampai akhir hidupnya. Tidak hanya manusia yang bermain, binatang pun senang melakukan kegiatan ini.

Manusia mempunyai tahapan perkembangan bermain yang sesuai dengan perkembangan dirinya, yaitu sebagai berikut:

1. Sensori Motor ( 6 bulan – 1,5 tahun)

Di usia ini, panca indera anak masih pada tahap perkembangan. Kita tidak akan melihat anak bermain bola atau ular tangga. Permainan masih berupa stimulasi pada panca indera anak, misalnya diperdengarkan bunyi-bunyian, ekspresi wajah (ciluk ba), diberi belaian, dan lain-lain.

Saat anak sudah mulai bisa bergerak sendiri (merangkak atau berjalan), permainan yang ia lakukan lebih berupa eksplorasi dan memegang berbagai benda.

2. Bermain pura-pura (2-7 tahun)

Pada usia ini, kemampuan kognitif anak sudah mulai berkembang. Ia sudah bisa bermain pura-pura, dimana sebuah benda dimanfaatkan sebagai mainan, misalnya pulpen dan penggaris dijadikan pesawat, atau penghapus didorong seperti memainkan mobil-mobilan.

3. Permainan sosial (8-11 tahun)

Saat ini anak sudah berada pada usia sekolah, dimana selain belajar, kemampuan anak dalam bersosialisasi perlu dikembangkan. Melalui permainan yang dapat dilakukan bersama-sama dengan teman, kemampuan sosialisasi anak akan turut berkembang. Anak juga belajar mengenai peraturan , kerja sama dan  etika sosial (tidak boleh curang, taat pada peraturan permainan).

Sebagai catatan , saat ini permainan sosial sudah jarang dilakukan , sebaliknya anak lebih senang bermain games elektronik sendirian. Hal ini dapat mengganggu perkembangan anak selanjutnya (anak menjadi individualis,mau menang sendiri,kurang dapat bersosialisasi).

4. Permainan olahraga (11 tahun ke atas)

Permainan olahraga hampir sama dengan permainan sosial. Hanya saja pada permainan jenis ini terdapat prestasi yang harus dikejar oleh anak.

5. Berkhayal   (7 tahun ke atas)

Umumnya terjadi pada masa remaja, namun dari usia 7 tahun pun anak sudah dapat melakukan kegiatan ini. Sisi positif dari kegiatan ini adalah anak melatih problem solving, kreativitas dan mulai memikirkan tujuan hidup yang lebih tinggi.

 

Dirangkum dari berbagai sumber.

Penulis adalah Psikolog di SmileKids

 

Oleh Fuye Ongko, M. Psi

Rasa takut merupakan sesuatu yang alami dan wajar. Rasa takut tidak dapat digambarkan namun dapat dilihat perilaku yang menunjukkan ketakutan seperti menangis, berkeringat dingin, gugup, dan lain-lain.  Tidak ada yang salah saat kita memiliki rasa takut, sebaliknya saat tidak memiliki rasa takut, kita malah cenderung membahayakan diri sendiri. Bayangkan bila anak Anda yang baru berusia 4 tahun nekat menyeberang sendirian di jalan raya yang ramai dengan kendaraan bermotor.

Permasalahan yang dihadapi anak dan orangtua ialah ketika rasa takut yang ada memiliki tingkat yang terlalu berlebihan atau terhadap objek yang tidak wajar . Rasa takut dengan intensi yang tinggi terhadap suatu objek atau situasi dan menimbulkan gangguan pada kehidupan sehari-hari tergolong pada gangguan kecemasan, secara spesifik dikatakan phobia.

Takut merupakan hasil belajar , karena pada dasarnya semua objek dinilai netral.

Hal ini dapat digambarkan pada ekperimen yang dilakukan oleh Watson kepada seorang anak bernama Albert (nama samaran, penelusuran lebih lanjut diketahui nama sesungguhnya adalah Douglas Meritte). Watson berusaha ”menciptakan” rasa takut dengan melakukan pairing antara  tikus dan suara keras.

 

Kondisi 1 : suara keras diperdengarkan, anak merasa takut

Kondisi 2 : suara keras diperdengarkan,bersamaan dengan itu seekor tikus diperlihatkan

Kondisi 3 : munculnya tikus sudah membuat anak merasa takut.

 

Ternyata kemunculan tikus yang tadinya merupakan sesuatu yang netral dapat memicu rasa takut pada Albert. Rasa takut ini ternyata juga tergeneralisasi kepada objek lain yang mengandung kemiripan seperti boneka berbulu.

Secara praktis kita juga dapat membuat gambaran mengenai asosiasi anak terhadap objek yang ia takuti. Asosiasi itu dapat kita peroleh melalui analisis dan pendekatan yang mendalam terhadap masalah anak. Pada kasus yang pernah saya tangani, yakni phobia terhadap siraman air di kepala pada anak perempuan usia 4 tahun, terjadi pairing antara siraman air dan perlakuan kasar dari pengasuh (pembantu).

Terdapat kondisi dimana anak dimandikan dengan cara yang kasar oleh pembantu (dicubit, dibentak-bentak), sehingga siraman air di kepala diasosiasikan akan menimbulkan bahaya bagi anak. Rasa takut yang timbul lalu tergeneralisasi pada hal-hal lain yang berkaitan (melihat air mancur di kolam renang, melihat shower menyala di kamar mandi).

Lalu bagaimana cara kita mengatasi keadaan ini?

Melalui teori belajar pun, kita menyadari bahwa manusia dapat melakukan re-learning. Berbeda dengan pairing negatif yang terjadi, kita dapat melakukan pairing yang menciptakan kondisi yang menyenangkan untuk anak. Namun tentunya re-learning harus dilakukan secara bertahap. Selama kira-kira 18 pertemuan saya melakukan kegiatan yang menyenangkan yang berkaitan dengan air bersama dengan anak yang saya ceritakan di atas. Pada akhir kegiatan anak sudah berani untuk mandi secara normal (membilas kepala dengan air) dan berenang dengan mencelupkan kepala ke dalam air.

Jangka waktu re learning tidak dapat ditentukan cepat lambatnya, tergantung pada intensi yang ada. Untuk anak-anak korban pelecehan seksual mungkin membutuhkan re learning lebih lama dibandingkan dengan anak-anak lainnya.

Penulis adalah Psikolog di SmileKids

Oleh Fuye Ongko, M. Psi.

Seringkali sebagai orangtua , guru atau pengasuh dari anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (autis,ADHD, MR, dan lain-lain), kita mempertanyakan mengenai terapi yang dilakukan di klinik. Apalagi bila kita sendiri sudah memiliki latar belakang atau pengetahuan mengenai terapi anak berkebutuhan khusus.

Terdapat hambatan tersendiri saat orangtua menterapi sendiri anaknya. Yang terutama adalah komitmen. Orangtua harus bekerja dan memiliki kegiatan lain, sehingga seringkali terapi yang ia lakukan sendiri tidak berjalan dengan waktu yang konsisten. Bila hal ini terjadi maka materi yang disampaikan kurang dapat diterima oleh anak secara berkesinambungan.

Faktor psikologis pun memiliki pengaruh yang tidak kecil. Saat melakukan terapi terhadap orang yang kita kenal (memiliki hubungan darah) terdapat hambatan emosional berupa objektifitas. Orangtua tidak “tega” untuk mendisiplinkan atau berusaha agar anak bisa memiliki sikap belajar yang baik ( di dalam hati ada pemikiran, “ah kasihan kalau dipaksa”).

 

Berbeda ketika orangtua mengikutkan anaknya pada terapi di klinik. Anak mendapatkan program terapi yang sudah tersusun jelas yang disampaikan dalam waktu yang berkesinambungan. Pelaksanaan terapi pun lebih objektif , terutama dalam pembentukan perilaku anak. Selain itu, akan lebih ideal ketika anak mendapatkan pemantauan (monitoring) secara khusus oleh proffesional yang ada di klinik (psikolog,dokter,terapis), sehingga orangtua mengetahui materi-materi apa yang sudah dikuasai anak juga perkembangan anak dalam berbagai aspek (emosi,sosial,kognitif, motorik). Orangtua juga mendapatkan masukan-masukan berupa program latihan yang dapat dilakukan di rumah .

 

Apa yang dituliskan di atas bukan berarti orangtua mempercayakan perkembangan anaknya 100% pada terapi di klinik namun lebih kepada penggambaran yang ideal untuk terapi bagi anak berkebutuhan khusus , yakni kombinasi antara pengasuhan orangtua yang didukung oleh bantuan proffesional dari klinik.

 

Penulis adalah Psikolog di SmileKids