SmileKids Online

Your Best Partner in Maximising Your Children's Development

Archive for April, 2010

Mengatasi Masalah Konsentrasi dan Motivasi Belajar yang Rendah pada Anak

(Seminar Gratis)

meminta anak untuk belajar sudah seperti maju ke medan perang, anak selalu melawan dengan berbagai alasan atau mengulur-ngulur waktu sehingga orangtua kehabisan kesabaran. Setelah bersusah-susah , anak pun akhirnya bisa melakukan kegiatan belajar…tetapi ternyata ini belum berakhir!

Saat belajar, anak cenderung lebih banyak melamun atau bermain dengan peralatan di sekitarnya. Lagi-lagi orangtua menjadi kerepotan…..

Masalah konsentrasi dan motivasi belajar pada anak sepertinya adalah masalah klasik yang sampai sekarang masih terjadi.

Melalui pengalaman yang sudah didapat selama ini, SMILE KIDS! Akan membagikan cara-cara mengatasi masalah konsentrasi dan motivasi belajar pada anak.

Segera daftarkan diri Anda dan ikuti seminarnya :

”Mengatasi Masalah Konsentrasi dan Motivasi Belajar yang Rendah pada Anak”

Hari / tanggal : Sabtu, 01 Mei 2010

Waktu:

Pendaftaran Ulang: 9.00-9.30

Seminar: 9.30-12.00

Tempat  :

SMILE KIDS!

Ruko Plaza Pasifik Blok A3 no 52,  Jl Raya Boulevard Barat (Lokasi antara Mall of Indonesia dan Makro )

Kelapa Gading – Jakarta Utara

Informasi dan Pendaftaran : Sdri.Ditha (45840468/085719877454)

Oleh Fuye Ongko, M.Psi

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahluk hidup, dari awal masa perkembangan sampai akhir hidupnya. Tidak hanya manusia yang bermain, binatang pun senang melakukan kegiatan ini.

Manusia mempunyai tahapan perkembangan bermain yang sesuai dengan perkembangan dirinya, yaitu sebagai berikut:

1. Sensori Motor ( 6 bulan – 1,5 tahun)

Di usia ini, panca indera anak masih pada tahap perkembangan. Kita tidak akan melihat anak bermain bola atau ular tangga. Permainan masih berupa stimulasi pada panca indera anak, misalnya diperdengarkan bunyi-bunyian, ekspresi wajah (ciluk ba), diberi belaian, dan lain-lain.

Saat anak sudah mulai bisa bergerak sendiri (merangkak atau berjalan), permainan yang ia lakukan lebih berupa eksplorasi dan memegang berbagai benda.

2. Bermain pura-pura (2-7 tahun)

Pada usia ini, kemampuan kognitif anak sudah mulai berkembang. Ia sudah bisa bermain pura-pura, dimana sebuah benda dimanfaatkan sebagai mainan, misalnya pulpen dan penggaris dijadikan pesawat, atau penghapus didorong seperti memainkan mobil-mobilan.

3. Permainan sosial (8-11 tahun)

Saat ini anak sudah berada pada usia sekolah, dimana selain belajar, kemampuan anak dalam bersosialisasi perlu dikembangkan. Melalui permainan yang dapat dilakukan bersama-sama dengan teman, kemampuan sosialisasi anak akan turut berkembang. Anak juga belajar mengenai peraturan , kerja sama dan  etika sosial (tidak boleh curang, taat pada peraturan permainan).

Sebagai catatan , saat ini permainan sosial sudah jarang dilakukan , sebaliknya anak lebih senang bermain games elektronik sendirian. Hal ini dapat mengganggu perkembangan anak selanjutnya (anak menjadi individualis,mau menang sendiri,kurang dapat bersosialisasi).

4. Permainan olahraga (11 tahun ke atas)

Permainan olahraga hampir sama dengan permainan sosial. Hanya saja pada permainan jenis ini terdapat prestasi yang harus dikejar oleh anak.

5. Berkhayal   (7 tahun ke atas)

Umumnya terjadi pada masa remaja, namun dari usia 7 tahun pun anak sudah dapat melakukan kegiatan ini. Sisi positif dari kegiatan ini adalah anak melatih problem solving, kreativitas dan mulai memikirkan tujuan hidup yang lebih tinggi.

 

Dirangkum dari berbagai sumber.

Penulis adalah Psikolog di SmileKids