Oleh Fuye Ongko, M. Psi

Rasa takut merupakan sesuatu yang alami dan wajar. Rasa takut tidak dapat digambarkan namun dapat dilihat perilaku yang menunjukkan ketakutan seperti menangis, berkeringat dingin, gugup, dan lain-lain. Tidak ada yang salah saat kita memiliki rasa takut, sebaliknya saat tidak memiliki rasa takut, kita malah cenderung membahayakan diri sendiri. Bayangkan bila anak Anda yang baru berusia 4 tahun nekat menyeberang sendirian di jalan raya yang ramai dengan kendaraan bermotor.
Permasalahan yang dihadapi anak dan orangtua ialah ketika rasa takut yang ada memiliki tingkat yang terlalu berlebihan atau terhadap objek yang tidak wajar . Rasa takut dengan intensi yang tinggi terhadap suatu objek atau situasi dan menimbulkan gangguan pada kehidupan sehari-hari tergolong pada gangguan kecemasan, secara spesifik dikatakan phobia.
Takut merupakan hasil belajar , karena pada dasarnya semua objek dinilai netral.
Hal ini dapat digambarkan pada ekperimen yang dilakukan oleh Watson kepada seorang anak bernama Albert (nama samaran, penelusuran lebih lanjut diketahui nama sesungguhnya adalah Douglas Meritte). Watson berusaha ”menciptakan” rasa takut dengan melakukan pairing antara tikus dan suara keras.
Kondisi 1 : suara keras diperdengarkan, anak merasa takut
Kondisi 2 : suara keras diperdengarkan,bersamaan dengan itu seekor tikus diperlihatkan
Kondisi 3 : munculnya tikus sudah membuat anak merasa takut.
Ternyata kemunculan tikus yang tadinya merupakan sesuatu yang netral dapat memicu rasa takut pada Albert. Rasa takut ini ternyata juga tergeneralisasi kepada objek lain yang mengandung kemiripan seperti boneka berbulu.
Secara praktis kita juga dapat membuat gambaran mengenai asosiasi anak terhadap objek yang ia takuti. Asosiasi itu dapat kita peroleh melalui analisis dan pendekatan yang mendalam terhadap masalah anak. Pada kasus yang pernah saya tangani, yakni phobia terhadap siraman air di kepala pada anak perempuan usia 4 tahun, terjadi pairing antara siraman air dan perlakuan kasar dari pengasuh (pembantu).
Terdapat kondisi dimana anak dimandikan dengan cara yang kasar oleh pembantu (dicubit, dibentak-bentak), sehingga siraman air di kepala diasosiasikan akan menimbulkan bahaya bagi anak. Rasa takut yang timbul lalu tergeneralisasi pada hal-hal lain yang berkaitan (melihat air mancur di kolam renang, melihat shower menyala di kamar mandi).
Lalu bagaimana cara kita mengatasi keadaan ini?
Melalui teori belajar pun, kita menyadari bahwa manusia dapat melakukan re-learning. Berbeda dengan pairing negatif yang terjadi, kita dapat melakukan pairing yang menciptakan kondisi yang menyenangkan untuk anak. Namun tentunya re-learning harus dilakukan secara bertahap. Selama kira-kira 18 pertemuan saya melakukan kegiatan yang menyenangkan yang berkaitan dengan air bersama dengan anak yang saya ceritakan di atas. Pada akhir kegiatan anak sudah berani untuk mandi secara normal (membilas kepala dengan air) dan berenang dengan mencelupkan kepala ke dalam air.
Jangka waktu re learning tidak dapat ditentukan cepat lambatnya, tergantung pada intensi yang ada. Untuk anak-anak korban pelecehan seksual mungkin membutuhkan re learning lebih lama dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
Penulis adalah Psikolog di SmileKids





